Umat Muslim Perkuat Ibadah dengan Itikaf di Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan

- Rabu, 11 Maret 2026 | 00:40 WIB
Umat Muslim Perkuat Ibadah dengan Itikaf di Sepuluh Malam Terakhir Ramadhan

Etika dan Hal yang Perlu Diperhatikan

Imam Al-Ghazali dalam risalahnya menyebut setidaknya ada delapan adab i'tikaf. Intinya adalah konsentrasi penuh. Terus berdzikir, jangan banyak ngobrol, tahan diri dari keinginan nafsu, dan taati aturan Allah. Tetaplah di tempat, jangan mondar-mandir.

Nah, ada juga hal-hal yang bisa membatalkannya. Yang utama adalah berhubungan suami-istri (jima’), sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah: 187. Keluar dari masjid tanpa keperluan syar'i juga membatalkan, kecuali hanya menjulurkan sebagian anggota badan seperti yang pernah Rasulullah contohkan.

Selain itu, murtad, mabuk, serta haid dan nifas bagi perempuan juga menjadi pembatal. Para ulama berbeda pendapat soal mabuk di malam hari, namun secara umum keadaan tak sadar itu mengganggu kekhusyukan ibadah.

Doa dan Keutamaan yang Menggiurkan

Saat beri'tikaf, panjatkan dzikir seperti "Subhaanallah walhamdulillah..." dan doa khusus: "Allahumma innaka 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu 'annii" (Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf, maka maafkanlah aku). Juga jangan lupa doa sapu jagat meminta kebaikan dunia akhirat.

Keutamaannya? Sungguh besar. Dalam sebuah riwayat disebutkan, siapa yang i'tikaf sepuluh hari di Ramadhan, pahalanya setara dua haji dan dua umrah. Luar biasa, bukan? Riwayat lain menyebut, i'tikaf satu hari saja dengan niat ikhlas akan menjauhkan pelakunya dari neraka sejauh tiga parit, yang masing-masing jaraknya sejauh langit dan bumi.

Inilah ibadah yang dijalani Nabi sepanjang hidupnya di sepuluh hari terakhir Ramadhan. Mari kita upayakan, semoga bisa meraih kemuliaannya.

Wallahu A'lam.

Editor: Raditya Aulia


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar