Di sisi lain, godaan untuk konsumtif biasanya datang dari mana-mana. Iklan diskon gila-gilaan, lihat teman beli ini-itu, langsung ikut-ikutan. Padahal, barang yang dibeli impulsif seringnya cuma numpang lewat di rumah, lalu terlupakan. Cobalah untuk lebih sadar. Tanyakan pada diri sendiri, "Ini perlu atau cuma pengen?" Fokus pada kebutuhan inti akan membuat setiap rupiah THR bekerja lebih efektif.
Kalau pos-pos utama sudah aman, coba deh alihkan pandangan ke masa depan. Menyisihkan sebagian THR untuk tabungan atau dana darurat itu keputusan yang cerdas. Dana darurat itu seperti baju hujan kita nggak tahu kapan hujan datang, tapi bersyukur banget sudah sedia payung. Dana ini akan jadi penyangga saat ada kebutuhan mendadak, sehingga kita nggak langsung terjebak utang.
Bahkan, jika memungkinkan, sisakan sedikit untuk diinvestasikan. Tapi ingat, jangan asal ceplos. Pilihlah instrumen yang aman dan sesuai dengan toleransi risiko kamu. Jangan sampai, alih-alih untung, malah bikin pusing sendiri.
Intinya sederhana: THR itu anugerah, bukan halal bihalal. Dengan sedikit perencanaan dan disiplin, uang yang datang setahun sekali ini bisa memberikan manfaat yang terasa jauh lebih lama, bahkan setelah suasana Lebaran usai. Jadi, bijaklah mengelolanya.
Artikel Terkait
Babak Lima Besar Cahaya Muda Indonesia, Satu Peserta Akan Tersingkir
Komisi III DPR Gelar RDPU Kasus Hukum Selebgram Nabilah OBrien
Ibu Firdha Razak Duga Menantu Gunakan Guna-guna terhadap Rafi Ikhsan
Rina Nose Buka Alasan di Balik Operasi Hidung Setelah 10 Tahun Pertimbangan