Henti Jantung dan CPR: Pelajaran dari Sebuah Kehilangan
Publik sempat terhenyak dengan kabar meninggalnya selebgram Lula Lahfah karena henti jantung. Kejadian ini, selain menyedihkan, juga membuka mata banyak orang. Soalnya, kondisi medis seperti ini bisa datang tiba-tiba, tanpa permisi. Dan nyawa seseorang seringkali bergantung pada pengetahuan orang di sekitarnya.
Waktu emas untuk menyelamatkan korban henti jantung mendadak itu sangat singkat, cuma hitungan menit. Korban bisa tiba-tiba ambruk, tak sadarkan diri, dan denyut nadinya hilang. Kalau pertolongan terlambat, akibatnya bisa fatal. Di sinilah peran CPR atau resusitasi jantung paru jadi krusial.
Menurut American Heart Association, CPR adalah prosedur darurat saat jantung berhenti berdetak. Tindakan ini bukan cuma teori. Faktanya, peluang bertahan hidup korban bisa meningkat dua hingga tiga kali lipat kalau CPR dilakukan dengan benar.
Lalu, bagaimana cara kerjanya? Intinya, CPR mempertahankan sirkulasi darah secara manual lewat kompresi dada. Dengan darah yang tetap mengalir, organ vital seperti otak tetap mendapat pasokan oksigen. Hal ini bisa mencegah kerusakan permanen sambil menunggu bantuan medis datang.
Yang perlu ditekankan, untuk kita yang awam, CPR bisa dilakukan tanpa napas buatan. Cukup fokus pada kompresi dada. Tekan bagian tengah dada korban dengan kuat dan cepat. Meski terdengar sederhana, tekniknya perlu diperhatikan biar efektif.
Ada beberapa poin kunci yang harus diingat. Pertama, usahakan kompresi dada tanpa jeda yang lama. Kedua, tekanan harus dengan laju dan kedalaman yang tepat. Jangan bersandar pada tubuh korban di sela-sela kompresi. Pastikan juga posisi tangan kita tepat di tengah dada. Dan yang terakhir, hindari memberikan napas buatan berlebihan.
Kalau CPR sudah dilakukan tapi korban belum juga respons, jangan tunda. Segera hubungi layanan darurat atau cari pertolongan medis terdekat. Kecepatan adalah segalanya dalam situasi seperti ini.
Kasus seperti yang menimpa Lula Lahfah ini jadi pengingat yang cukup keras. Edukasi pertolongan pertama bukan cuma urusan dokter atau perawat. Pengetahuan dasar seperti CPR harusnya jadi beban bersama. Di tangan masyarakat yang paham, nyawa seseorang bisa tertolong.
Artikel Terkait
Natha Panggil Wira “Ayah” di Sidang, Gugatan Warisan Sinetron ‘Turun Ranjang’ Makin Memanas
Nasabah PNM Mekaar di Serang Berhasil Tekan Sampah Rumah Tangga hingga 55 Persen Lewat Bank Sampah MATA
Ria Ricis Akui Operasi Hidung demi Kesehatan, Bukan Sekadar Estetik
Puasa Ayyamul Bidh Dzulqa’dah 1447 H Jatuh pada 1-3 Mei 2026, Ibadah di Bulan Haram Berpahala Lipat Ganda