Malam itu, ketika iblis Sui datang dan hendak menyentuh dahi anak tersebut, tiba-tiba cahaya terang memancar dari koin-koin itu. Sang iblis pun ketakutan dan langsung kabur.
Ternyata, kedelapan koin itu adalah jelmaan dari delapan peri pelindung yang memancarkan cahaya terang. Sejak kejadian itulah, kebiasaan memberi amplop merah diyakini bisa menjaga anak-anak dan membawa keberuntungan bagi mereka.
Meski identik dengan hadiah untuk anak-anak, angpao juga diberikan kepada orang tua atau kakek-nenek oleh anak atau cucu yang sudah menikah. Ini menjadi simbol harapan agar orang yang lebih tua tetap diberikan kesehatan dan kebahagiaan.
Nah, pemberian angpao ini nggak bisa asal-asalan, lho. Ada beberapa aturan tak tertulis yang biasanya diikuti. Pertama, yang berhak membagikan angpao biasanya adalah mereka yang sudah menikah.
Lalu, uang yang dimasukkan sebaiknya lembaran baru dan bersih. Soal jumlah, hindari angka 4. Bagi masyarakat Tionghoa, angka ini dianggap membawa energi kurang baik.
Bagaimana cara menerimanya? Sebaiknya, angpao diterima dengan kedua tangan sebagai wujud penghormatan. Jangan lupa ucapkan terima kasih. Dan satu hal yang penting: jangan dibuka di depan si pemberi. Itu dianggap kurang sopan.
Jadi, itulah sekelumit makna dan cerita di balik tradisi angpao yang selalu dinanti setiap perayaan Imlek.
Artikel Terkait
Denada Unggah Foto Lawas dengan Sang Ibu, Ungkap Rindu di Tengah Badai Isu
Pandji Pragiwaksono Sindir Publik dengan Cuitan Soal Tiket di Tengah Badai Hukum
Manohara Putus dengan Kristian Hansen: Kejujuran Tak Bisa Ditawar
Ketika Cinta Takut Berlabuh: Mengurai Ketakutan akan Komitmen dalam Hubungan