Wamenristek Stella Christie: Jangan Paksa Anak Belajar Coding, Kekuatan Otak Ada di Cara Berpikir

- Minggu, 28 Desember 2025 | 17:06 WIB
Wamenristek Stella Christie: Jangan Paksa Anak Belajar Coding, Kekuatan Otak Ada di Cara Berpikir

Di tengah derasnya arus teknologi, banyak orang tua yang mulai gelisah. Pertanyaan besarnya: bagaimana sih sebenarnya mengasuh anak di era kecerdasan buatan atau AI ini? Tak jarang, coding langsung dianggap sebagai jawabannya, sebuah keterampilan yang kini banyak diajarkan di sekolah dengan harapan bisa menjawab tantangan zaman.

Namun begitu, ada pandangan lain yang menarik. Dalam International Symposium on ECED 2025 yang diadakan Tanoto Foundation di Jakarta, Rabu (17/12), Wakil Menteri Pendidikan Tinggi Prof. Stella Christie justru memberikan perspektif yang berbeda. Menurutnya, kita tidak perlu membentuk anak-anak untuk menjadi seperti mesin. Kekuatan manusia, kata dia, justru terletak pada cara berpikir dan kemampuannya bersosialisasi.

Stella Christie: AI Bukan Pengganti Pikiran Anak

Stella membeberkan sebuah riset dari MIT, The Massachusetts Institute of Technology. Penelitian itu membandingkan cara belajar; satu kelompok tanpa teknologi, satu pakai search engine, dan satunya lagi bergantung penuh pada AI. Hasilnya cukup mengejutkan. Ternyata, ketergantungan total pada AI justru menurunkan performa kognitif mahasiswa. Temuan ini jadi bukti nyata bahwa proses berpikir manusia tak boleh diambil alih sepenuhnya oleh mesin.

“Kalau anak cuma diajar untuk meniru AI, ya mereka nggak akan pernah bisa melebihi kecerdasan AI itu sendiri,” ujar Stella.

Kekuatan Otak Anak Ada pada Cara Berpikir, Bukan Menghafal

Lebih dalam, Stella menjabarkan bahwa kunci pendidikan sebenarnya terletak pada mengasah kemampuan yang cuma dimiliki manusia. Misalnya, memahami pola, membandingkan struktur, atau menemukan hubungan antar informasi. Belajar lewat eksplorasi lingkungan sekitar juga penting.

Ia lalu bercerita tentang penelitian yang dilakukannya dulu di Tsinghua University, China. Anak usia dua sampai tiga tahun yang awalnya tak paham pola, ternyata bisa mengenali pola sederhana setelah diajari. Kecakapan semacam ini, menurutnya, berkaitan erat dengan kreativitas dan jadi dasar inovasi ilmiah kelak.

Intinya, belajar bukan cuma soal menghafal atau menimbun informasi. Yang utama justru bagaimana memproses informasi itu dan menemukan maknanya. Itulah mengapa stimulasi pengalaman nyata, interaksi sosial, dan bermain, tetap jauh lebih krusial untuk anak usia dini ketimbang menghabiskan waktu di depan layar atau latihan teknis yang kaku.

Anak Tidak Perlu Belajar Coding Sejak Dini

Masyarakat kerap punya anggapan: anak harus cepat-cepat belajar coding agar siap menghadapi dunia digital. Stella punya pendapat yang berseberangan. Menurutnya, masa kanak-kanak bukanlah waktu yang tepat untuk memperlakukan anak layaknya programmer kecil.

Logikanya sederhana. AI itu diciptakan dari cara manusia belajar bukan sebaliknya. Jadi, memaksa anak berlatih layaknya mesin justru akan mengikis proses belajar alami mereka yang sebenarnya kompleks dan sangat manusiawi.

Ia lebih menyarankan agar pengasuhan anak usia dini difokuskan pada keterampilan dasar. Sebut saja kemampuan sosial, rasa ingin tahu, kerja sama, komunikasi, empati, dan tentu saja kreativitas. Semua kemampuan ini takkan bisa digantikan oleh teknologi, sehebat apapun perkembangan AI nantinya.

“Yang pasti bukan mengajarkan bagaimana membuat coding. Karena pada saat ini, membuat coding itu (pakai) AI jauh lebih murah dan jauh lebih cepat. Tapi berpikir sebenarnya ‘apa itu coding?’ Jadi, dalam coding itu struktur-struktur apa yang bisa dipakai? Jadi pemikirannya (yang harus dilatih),” tuturnya.

Pendidikan Anak = Pengalaman Relasi Sosial

Di akhir paparannya, Stella menegaskan poin penting. Anak-anak belajar lewat pengalaman nyata dan hubungan yang manusiawi. Interaksi dengan orang tua, guru, dan teman sebaya adalah fondasi dari tumbuh kembang otak mereka.

Jadi, pesannya jelas. Orang tua tak perlu panik menyambut era AI. Yang terpenting justru memberikan ruang yang cukup bagi anak untuk berproses, bereksplorasi, dan menjadi manusia seutuhnya.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar