Séance Adrian Gan: Ketika Kain Ratusan Tahun dan Imaji Surealis Bertemu di Atas Panggung

- Senin, 15 Desember 2025 | 15:06 WIB
Séance Adrian Gan: Ketika Kain Ratusan Tahun dan Imaji Surealis Bertemu di Atas Panggung

Awal Desember lalu, suasana benar-benar berbeda. Dunia Adrian Gan terasa seperti mimpi yang hidup. Para tamu disambut oleh jam dinding merah yang meleleh, seolah waktu sendiri mencair malam itu. Itu adalah pintu masuk menuju sebuah ruang di mana masa lalu karya, kenangan, mimpi dihidupkan kembali dalam wujud visual yang baru.

Pagelaran ini bertajuk "Séance". Bagi Adrian, yang merayakan 40 tahun berkarya, kata itu berarti duduk bersama. Lebih dari sekadar perayaan, ini adalah momen pertemuan antara yang lampau dan yang sekarang. Sebuah ritual syukur setelah empat dekade bergelut dengan fashion.

“Saya bersyukur bisa melewati empat dekade dengan segala tantangan, baik suka maupun duka,” ujar Adrian Gan.

Ia melanjutkan, “Di titik ini, saya berusaha untuk tidak mudah merasa puas dan selalu mau belajar hal baru, terutama update soal tren fashion. Sebab bagi saya, fashion itu sesuatu yang hidup dan dinamis.”

Siluet Kontemporer dan Narasi Surealis

Selama ini, nama Adrian Gan lekat dengan cheongsam yang dimodernisasi. Tapi Séance lain sama sekali. Ia menunjukkan keahliannya memadukan estetika klasik dengan bahasa kontemporer, dikemas dalam sebuah parade yang sulit dilupakan.

Pertunjukan dibagi dalam beberapa babak. Mulai dari era Victorian, lalu nuansa gotik yang gelap, kemudian detail-detail surealisme yang mengejutkan, hingga sentuhan budaya Indonesia yang kental. Koleksi ini mengeksplorasi struktur, layering, dan permainan tekstur yang menarik. Yang menakjubkan, beberapa karyanya bahkan menggunakan kain antik berusia ratusan tahun.

“Banyak koleksi kain lama yang berasal dari era Victorian,” jelas Adrian. “Bagian paling menantang dalam mengolah kain yang sudah berusia ratusan tahun adalah ketika harus mengerjakan patchwork dan lace.”

Pembukaannya langsung menyita perhatian. Dua model dengan busana vintage, dengan teknik layering blazer yang khas era itu. Lalu muncul gaun lace playful dengan struktur peplum di pinggang. Namun, satu gaun khususnya yang bikin terpana: sebuah lace dress dengan detail wayang menghiasi roknya. Sungguh percampuran yang apik antara gaya Victoria dan akar budaya Indonesia.

Nuansa surealisnya muncul di mana-mana. Lihat saja tas-tasnya, dari yang berukuran besar hingga clutch berbentuk kelinci. Pemilihan kelinci ini rupanya punya maksud. Menurut Adrian, hewan itu melambangkan fairytale dan sering dianggap sebagai jembatan antara dunia nyata dan imajinasi.

Kerja sama dengan perancang aksesori Rinaldy A. Yunardi semakin memperkaya detail-detail itu. Aksesori bukan sekadar pelengkap, tapi bagian dari cerita.

Babak berikutnya berganti lebih gelap, didominasi nuansa gotik. Di bagian ini, ada satu look yang sangat mencolok: atasan biru yang terinspirasi cheongsam, dipadukan dengan celana velvet ungu. Yang unik, kancing frog-nya diganti dengan sendok dan garpu! Sentuhan surealis hadir lewat bordiran berbentuk mata di bagian bawah baju dan dalam lengan.

Acara ditutup dengan penampilan bride and groom yang dramatis. Sebuah tuksedo dan gaun lace dengan detail yang rumit. Untuk memperkuat kesan dongeng, kedua model mengenakan topeng kelinci dan burung hantu.

Momen penutup itu terasa sempurna. Ia menghadirkan perjumpaan intim antara luka dan keindahan, antara batasan dan kebebasan. Koleksi Séance ini bukan sekadar tontonan. Ia adalah undangan untuk duduk dalam lingkaran, menjadi bagian dari ritual, ingatan, dan jiwa yang dirajut Adrian Gan selama empat puluh tahun perjalanan kreatifnya.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar