Makan Bersama, Kunci Utama Atasi Rendahnya Konsumsi Serat Keluarga Indonesia

- Minggu, 07 Desember 2025 | 14:42 WIB
Makan Bersama, Kunci Utama Atasi Rendahnya Konsumsi Serat Keluarga Indonesia

Angka konsumsi serat di Indonesia masih memprihatinkan. Hanya segelintir orang, termasuk anak-anak, yang benar-benar memenuhi kebutuhan hariannya. Menanggapi hal ini, para ahli gizi justru melihat peluang besar dari lingkup terkecil: keluarga. Peran mereka dinilai krusial untuk membangun kebiasaan makan sehat sejak usia dini.

Ahli Gizi Seala Septiani mengungkap fakta yang cukup mengejutkan. "Yang sudah cukup itu 4-5 porsi per hari. Ini kecil sekali, termasuk anak-anak," ujarnya. Menurutnya, baru sekitar 5% orang Indonesia yang rutin makan buah dan sayur dalam porsi ideal. Padahal, itulah kunci untuk memenuhi kebutuhan serat tubuh.

Acara kumparanMOM Mom's Meet Up: Healthy Minds, Healthy Bodies yang digelar bersama Novo Nordisk Indonesia dan Unicef di Jakarta Selatan (27/11) menjadi tempat Seala menyampaikan keprihatinannya. Pola makan rendah serat ini, katanya, seringkali terbentuk dari kecil dan terbawa hingga remaja.

"Anak-anak nggak biasa makan sayur, pas remaja lagi memang tumbuhnya cepat sekali, dia pilihlah makanan yang katanya harus protein," jelas Seala. Namun begitu, pilihan proteinnya seringkali justru yang tinggi lemak, bukan yang sehat. Akibatnya, kebiasaan buruk itu mengakar kuat.

Lalu, Bagaimana Solusinya? Peran Keluarga Jadi Kunci

Seala punya tips sederhana namun kerap diabaikan: makan bersama. Bukan sekadar duduk semeja, tapi benar-benar menunjukkan keteladanan. "Kita makan bareng sama anak, kita juga makan bareng ‘emmm sayur enak’," katanya sambil memberi contoh.

Poinnya jelas. Menyuruh anak makan sayur sementara orang tua hanya menonton, itu percuma. Malah bisa bikin anak merasa kesepian dan ogah-ogahan. Di sisi lain, serat dibutuhkan semua usia. Jadi, dengan rutin mengonsumsi serat, orang tua tak cuma memberi contoh baik, tapi juga menjaga kesehatan diri sendiri.

Makan bersama secara rutin menciptakan role model yang positif tanpa perlu banyak ceramah. Anak melihat, meniru, dan lama-lama terbiasa. Cara ini bisa mengubah mood anak saat makan. Dari yang susah makan jadi lebih ceria.

"Nggak usah dipaksa, anak juga jadi tidak menjadi obesitas di kemudian hari," tegas Seala.

Jadi pesannya sederhana. Kalau ingin anak doyan sayur, mulailah dari piring kita sendiri. Itulah kunci yang sesungguhnya.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar