Perempuan Sudan: Kelaparan dan Kekerasan dalam Bayang-Bayang Perang

- Selasa, 02 Desember 2025 | 10:24 WIB
Perempuan Sudan: Kelaparan dan Kekerasan dalam Bayang-Bayang Perang

Konflik berkepanjangan di Sudan telah menghancurkan banyak hal. Ekonomi runtuh, tatanan sosial berantakan. Tapi dampaknya yang paling menghantam justru dirasakan oleh para perempuan di sana. Hidup mereka berubah jadi perjuangan sehari-hari untuk sekadar bertahan.

Laporan UN Women yang terbit November 2025, “Dimensions of Food Insecurity in Sudan”, mengungkap angka yang memilukan: sekitar 11 juta perempuan dan anak perempuan Sudan berada dalam kondisi kerawanan pangan akut. Lebih detail lagi, hampir 74 persen dari mereka tidak memenuhi standar keragaman pangan minimum. Pola makan mereka buruk, jauh dari kata bergizi.

Di tengah situasi sulit ini, perempuan dan anak perempuan seringkali mendapat jatah makan paling sedikit bahkan kadang tak sama sekali. Menurut sejumlah saksi di lapangan, mereka terpaksa melakukan apa saja untuk mencari makanan. Ada yang memetik dedaunan liar atau buah beri, lalu merebusnya menjadi semangkuk sup tipis hanya untuk mengganjal perut.

Salvator Nkurunziza, Perwakilan PBB untuk Perempuan di Sudan, melihat ini bukan sekadar masalah kelaparan biasa.

“Dengan kondisi yang kini mendekati ambang kelaparan di beberapa wilayah di negara ini, ini bukan sekadar krisis pangan, tetapi darurat gender yang disebabkan oleh kegagalan tindakan responsif gender,” tegasnya.

Kepala Keluarga Perempuan, Beban Tiga Kali Lebih Berat

Kerawanan pangan ternyata jauh lebih parah di rumah tangga yang dipimpin perempuan. Data dari laporan “Gender Snapshot: Women, Food Insecurity, and Famine Risk in Sudan” pada Juni lalu menunjukkan, keluarga dengan kepala rumah tangga perempuan mengalami kelaparan tiga kali lipat lebih buruk. Coba bayangkan.

Hanya 1,9 persen rumah tangga seperti ini yang punya ketahanan pangan. Angkanya jauh lebih rendah ketimbang rumah tangga dengan kepala keluarga laki-laki, yang berada di angka 5,9 persen. Kondisi ini jelas mengancam nyawa, terutama bagi ibu hamil dan anak-anak yang bergantung padanya.

“Perempuan dan anak perempuan menanggung beban kerawanan pangan yang parah, dengan sumber daya yang lebih sedikit, akses yang lebih terbatas terhadap bantuan, dan paparan risiko yang lebih besar,” papar Salvator.

Ancaman Ganda: Kelaparan dan Kekerasan

Namun begitu, kelaparan bukan satu-satunya momok. Perempuan Sudan juga hidup dalam bayang-bayang kekerasan seksual dan kekerasan berbasis gender. Laporan itu menyebut, mereka sangat rentan diserang saat melakukan aktivitas sehari-hari seperti mengambil air, mengumpulkan kayu bakar, atau mengantre untuk bantuan makanan.

Kekerasan sering terjadi pula saat mereka berusaha menyelamatkan diri dengan mengungsi. Pelakunya? Seringkali kelompok-kelompok bersenjata yang berkeliaran.

Menyikapi situasi genting ini, UN Women mendesak para donatur untuk segera mengalokasikan dana khusus bagi perlindungan perempuan. Mereka juga memperkuat kerja sama dengan organisasi lokal di Sudan untuk menjangkau dan membantu para perempuan yang terdampak.

“Sebagai UN Women, kami turut merasakan beban setiap perempuan yang dibungkam oleh perang di Sudan,” ujar Anna Mutavati, Direktur Regional UN Women untuk Afrika Timur dan Selatan, dari Jenewa.

Ia menegaskan, perempuan dan anak perempuan di Sudan bukan sekadar angka statistik. Mereka manusia yang berhak hidup layak dan mendapatkan makanan bergizi. Titik.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar