“Perempuan dan anak perempuan menanggung beban kerawanan pangan yang parah, dengan sumber daya yang lebih sedikit, akses yang lebih terbatas terhadap bantuan, dan paparan risiko yang lebih besar,” papar Salvator.
Ancaman Ganda: Kelaparan dan Kekerasan
Namun begitu, kelaparan bukan satu-satunya momok. Perempuan Sudan juga hidup dalam bayang-bayang kekerasan seksual dan kekerasan berbasis gender. Laporan itu menyebut, mereka sangat rentan diserang saat melakukan aktivitas sehari-hari seperti mengambil air, mengumpulkan kayu bakar, atau mengantre untuk bantuan makanan.
Kekerasan sering terjadi pula saat mereka berusaha menyelamatkan diri dengan mengungsi. Pelakunya? Seringkali kelompok-kelompok bersenjata yang berkeliaran.
Menyikapi situasi genting ini, UN Women mendesak para donatur untuk segera mengalokasikan dana khusus bagi perlindungan perempuan. Mereka juga memperkuat kerja sama dengan organisasi lokal di Sudan untuk menjangkau dan membantu para perempuan yang terdampak.
“Sebagai UN Women, kami turut merasakan beban setiap perempuan yang dibungkam oleh perang di Sudan,” ujar Anna Mutavati, Direktur Regional UN Women untuk Afrika Timur dan Selatan, dari Jenewa.
Ia menegaskan, perempuan dan anak perempuan di Sudan bukan sekadar angka statistik. Mereka manusia yang berhak hidup layak dan mendapatkan makanan bergizi. Titik.
Artikel Terkait
Ibu Calon Mantu Pingsan Usai Tuding Tamu Undangan Sebagai Perusak Keluarga di Sinetron RCTI
Klub Harvard Indonesia Pecat Andhika Sudarman Terkait Tuduhan Pelecehan Seksual
Studi 43 Tahun: Minum Kopi 2-3 Cangkir Sehari Turunkan Risiko Demensia hingga 18%
Doa Hari ke-12 Ramadhan: Mohon Aib Ditutup dan Dihiasi Kebaikan