Rahmah El Yunusiyyah: Pahlawan Nasional 2025 Perintis Pendidikan Perempuan

- Sabtu, 15 November 2025 | 14:48 WIB
Rahmah El Yunusiyyah: Pahlawan Nasional 2025 Perintis Pendidikan Perempuan
Rahmah El Yunusiyyah: Pahlawan Nasional Perintis Pendidikan Perempuan

Rahmah El Yunusiyyah, Pahlawan Nasional Perintis Pendidikan Islam bagi Perempuan

Pada peringatan Hari Pahlawan, Presiden Prabowo Subianto menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Rahmah El Yunusiyyah. Perempuan asal Sumatera Barat ini diakui atas jasa besarnya dalam memajukan pendidikan Islam, khususnya bagi kaum perempuan, di tengah masa penjajahan.

Perjalanan menuju gelar Pahlawan Nasional ini tidaklah singkat. Pengajuan namanya sempat ditolak sebanyak tiga kali. Pada era Presiden Soeharto, gelar pahlawan untuk Rahmah belum disetujui. Di masa kepemimpinan Presiden B.J. Habibie, ia baru menerima Bintang Mahaputera Pratama. Kemudian, di bawah pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, ia kembali belum ditetapkan sebagai pahlawan dan mendapat Bintang Mahaputera Adipradana. Akhirnya, di tahun 2025, gelar Pahlawan Nasional resmi disematkan kepada namanya.

Perintis Sekolah Islam Perempuan Pertama di Indonesia dan Asia

Rahmah El Yunusiyyah lahir di Padang Panjang pada tahun 1900. Sejak kecil, ia telah menunjukkan minat yang tinggi pada ilmu pengetahuan, baik ilmu agama maupun umum, yang dipelajarinya bersama sang kakak. Bekal pengetahuan inilah yang mendorongnya untuk mendirikan "Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang" pada 1 November 1923, di usianya yang ke-23.

Lembaga pendidikan ini tercatat sebagai sekolah Islam khusus perempuan pertama tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di seluruh kawasan Asia. Hingga saat ini, Perguruan Diniyyah Puteri masih berdiri dan telah melahirkan banyak tokoh berpengaruh, salah satunya adalah Nurhayati Subakat, pendiri Paragon.

Perjuangan Rahmah tidak mudah. Pemerintah Belanda kala itu melarang segala bentuk kegiatan pendidikan di luar kurikulum mereka. Al-Qur'an dan kitab-kitab Islam disita, dan pengajaran agama dilarang keras. Namun, Rahmah tetap teguh menjalankan misinya, menjadikan pendidikan Islam bagi perempuan sebagai bentuk perlawanan terhadap penjajah.

Kontribusi di Medan Perjuangan: Membangun Batalyon Marapi

Selain di bidang pendidikan, Rahmah juga aktif dalam perjuangan fisik melawan penjajah. Saat masa pendudukan Jepang, ia berperan dalam menyelamatkan perempuan-perempuan Minangkabau yang diculik. Kontribusi besarnya yang lain adalah pendirian Batalyon Marapi, yang menjadi cikal bakal Tentara Nasional Indonesia (TNI) di wilayah Ranah Minang.

Dedikasinya yang multidimensi inilah yang menjadi alasan kuat mengapa namanya terus diajukan untuk gelar Pahlawan Nasional. Penantian panjang itu akhirnya berbuah manis di tahun 2025. Penyerahan gelar Pahlawan Nasional diwakili oleh Pimpinan Perguruan Diniyyah Puteri Padang Panjang, Fauziah Fauzan El Muhammady, yang menyatakan bahwa Rahmah pantas menyandang gelar tersebut.

"Alhamdulillah kita bersyukur hari ini Bunda Rahmah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional oleh Presiden Prabowo Subianto," ungkap Fauziah.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar