Mentan Targetkan Harga Kelapa Rp 6.000 per Butir lewat Hilirisasi
Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman menargetkan harga kelapa di tingkat petani dapat mencapai Rp 6.000 per butir dalam beberapa tahun mendatang. Saat ini, harga kelapa yang diterima petani masih berada pada kisaran Rp 4.000 hingga Rp 5.000 per butir.
Kunci Pencapaian Target: Percepatan Hilirisasi
Target peningkatan harga kelapa ini diproyeksikan dapat tercapai melalui program percepatan hilirisasi industri kelapa yang sedang digencarkan pemerintah. Posisi Indonesia sebagai negara pengekspor kelapa terbesar di dunia dinilai menjadi modal kuat untuk mewujudkan hal tersebut.
Amran menjelaskan potensi besar di balik hilirisasi ini. Nilai ekspor kelapa saat ini yang mencapai Rp 24 triliun, menurut diagram pohon industri, berpotensi meningkat hingga 100 kali lipat menjadi Rp 2.400 triliun setelah melalui proses hilirisasi.
Potensi Kenaikan Nilai Tambah dan Contoh Keberhasilan
Meski secara teori bisa mencapai 100 kali lipat, Amran menyatakan realistisasi peningkatan nilai tambah bisa bervariasi, seperti 50 kali lipat atau 20 kali lipat. Keberhasilan hilirisasi sudah terbukti di Maluku Utara, di mana harga kelapa melonjak dari semula Rp 600 per butir menjadi Rp 3.500 per butir setelah dihilirisasi.
Dengan kenaikan hampir 500 persen tersebut, target selanjutnya adalah menstabilkan harga kelapa pada level Rp 5.000 hingga Rp 6.000 per butir, yang berarti kenaikan hingga 1.000 persen dari harga awal.
Proyeksi Waktu dan Dampak pada Tenaga Kerja
Proses hilirisasi kelapa ditargetkan dapat rampung dalam kurun waktu 3 hingga 4 tahun ke depan. Program ini tidak hanya bertujuan meningkatkan harga komoditas, tetapi juga diproyeksikan dapat menyerap tenaga kerja hingga 1,4 juta orang, memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional.
Artikel Terkait
Investor Ragu, Saham Big Tech Anjlok Triliunan Dolar di Awal 2026
Dua Komisaris Mundur, TRON Tetap Lanjutkan Ekspansi ke Bisnis Stasiun Isi Ulang Kendaraan Listrik
Pemerintah Pastikan THR ASN Rp55 Triliun Cair Awal Puasa 2026
S&P DJI Lanjutkan Rebalancing Indeks di Indonesia, Pantau Perkembangan Regulasi BEI