CEO Wall Street Peringatkan Risiko Koreksi Pasar Saham Global di Tengah Euforia AI
Para CEO Wall Street mengeluarkan peringatan serius tentang potensi penurunan pasar saham global. Kekhawatiran utama mereka berpusat pada valuasi saham teknologi artificial intelligence (AI) yang dinilai sudah terlalu tinggi dan mengingatkan pada era gelembung dot-com.
Peringatan dari Puncak Wall Street
Ted Pick, CEO Morgan Stanley, menyatakan dalam Global Financial Leaders' Investment Summit di Hong Kong bahwa koreksi pasar 10-15% perlu diwaspadai. "Kita seharusnya menyambut kemungkinan adanya koreksi pasar selama tidak disebabkan oleh faktor makroekonomi besar," ujarnya.
David Solomon, CEO Goldman Sachs, menambahkan peringatan serupa. "Pasar bisa terus naik untuk beberapa waktu, namun selalu ada faktor yang mengubah sentimen dan memicu penurunan," katanya.
Kondisi Pasar Saat Ini
Pasar saham AS menunjukkan tanda-tanda pelemahan dengan kontrak berjangka indeks utama Wall Street yang turun. Indeks Volatilitas Cboe (VIX) bertahan di level tertinggi dua minggu, mengindikasikan meningkatnya ketakutan investor.
Meski demikian, Solomon menegaskan bahwa meski valuasi sektor teknologi sudah penuh, kondisi ini tidak berlaku untuk seluruh pasar.
Risiko yang Diabaikan Pasar
Pasar saat ini dinilai mengabaikan berbagai risiko fundamental seperti inflasi, suku bunga tinggi, ketidakpastian kebijakan perdagangan global, dan penutupan sebagian pemerintahan federal AS yang telah berlangsung lima minggu.
Jamie Dimon, CEO JPMorgan Chase, menyatakan kekhawatiran yang lebih dalam. "Saya jauh lebih khawatir dibanding banyak orang," ujarnya, merujuk pada ketegangan geopolitik, belanja fiskal besar, dan remiliterisasi global.
AI: Gelembung Baru atau Inovasi Nyata?
Euforia AI memunculkan pertanyaan penting: apakah ini inovasi nyata atau gelembung spekulatif baru? Citigroup memperkirakan belanja infrastruktur AI bisa mencapai USD2,8 triliun hingga 2029.
Kesepakatan besar-besaran terus terjadi, seperti perjanjian OpenAI senilai USD38 miliar dengan Amazon.com untuk layanan komputasi awan. Situasi ini mengingatkan pada gelembung dot-com akhir 1990-an yang berakhir dengan keruntuhan pasar tahun 2000.
Para ahli menekankan pentingnya kewaspadaan investor terhadap potensi koreksi pasar saham di tengah euforia AI yang terus memanas. Risiko koreksi signifikan dalam 6 bulan hingga 2 tahun ke depan perlu menjadi pertimbangan utama dalam strategi investasi.
Artikel Terkait
16 Emiten Gelontorkan Rp15,39 Triliun untuk Buyback Saham
Harga Emas Pegadaian Naik Lagi, Galeri24 dan UBS Tembus Rp2,9 Jutaan per Gram
Indospring Ekspansi Ekspor ke Pasar Timur Tengah
PT Adhi Kartiko Pratama Ambil Pinjaman Rp100 Miliar dari Bank UOB