Meski menguat di akhir pekan, harga minyak justru mengalami penurunan untuk pekan dan bulan ketiga berturut-turut. Sepanjang Oktober, WTI turun 2,2% dan Brent merosot 2,9%.
Beberapa faktor yang menekan harga minyak termasuk:
- Penguatan dolar AS ke level tertinggi tiga bulan
- Penurunan aktivitas manufaktur China selama tujuh bulan berturut-turut
- Kelebihan pasokan dari negara-negara OPEC dan produsen non-OPEC
- Kemungkinan penurunan harga jual minyak mentah Arab Saudi untuk pembeli Asia
Outlook Pasar Minyak 2025
Survei Reuters memproyeksikan harga Brent rata-rata di USD67,99 per barel pada 2025, naik sekitar 38 sen dari proyeksi bulan sebelumnya. Sementara WTI diperkirakan rata-rata USD64,83, sedikit di atas perkiraan September sebesar USD64,39.
OPEC disebut cenderung menaikkan produksi secara moderat pada Desember, meski sebagian besar anggotanya tidak memiliki kapasitas tambahan produksi yang signifikan. Data terbaru menunjukkan ekspor minyak mentah Arab Saudi pada Agustus mencapai 6,407 juta barel per hari, tertinggi dalam enam bulan terakhir, sementara produksi minyak AS mencapai rekor 13,6 juta barel per hari.
Artikel Terkait
Saham Asia Menguat Didorong AI, Waspada Gejolak Harga Minyak
Saham Konglomerat Terjun Bebas, Anjlok Hingga 40% Menjelang Lebaran
Wall Street Ditutup Menguat Meski Kenaikan Harga Minyak dan Ketegangan Timur Tengah Tekan Sentimen
Serangan ke Pelabuhan Fujairah Picu Lonjakan Harga Minyak dan Ancaman Disrupsi Pasokan Global