Maluku Utara Menuju Pusat Rempah Dunia: Strategi Hilirisasi Perkebunan
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mencanangkan Maluku Utara (Malut) sebagai pusat rempah dunia melalui program hilirisasi perkebunan. Langkah strategis ini bertujuan untuk mengembalikan kejayaan rempah-rempah Indonesia di kancah global.
Potensi Besar Maluku Utara sebagai Episentrum Rempah
Maluku Utara dinilai memiliki potensi luar biasa untuk pengembangan komoditas perkebunan unggulan, seperti pala, cengkeh, dan kelapa. Kawasan ini diharapkan dapat menjadi poros perdagangan dunia, mengulangi sejarah kejayaan rempah Nusantara yang pernah didatangi bangsa Portugis dan Belanda.
Dukungan Anggaran dan Investasi Pemerintah
Sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto, pemerintah menyiapkan skema investasi senilai Rp 371 triliun untuk memperkuat hilirisasi sektor pertanian, khususnya perkebunan strategis. Dana ini akan dialokasikan secara prioritas kepada daerah yang menunjukkan komitmen serius dalam pengembangan hilirisasi dan peningkatan nilai tambah.
Langkah Konkret: Penambahan Lahan dan Dukungan Penuh
Sebagai bentuk komitmen, Kementan meningkatkan dukungan penanaman kelapa di Malut dari 10 ribu menjadi 15 ribu hektare. Program ini merupakan bagian dari pengembangan 14 komoditas perkebunan strategis yang diperkirakan mampu menyerap 8,6 juta tenaga kerja. Pemerintah menyiapkan benih, alat, dan pembinaan dari hulu hingga hilir.
Hilirisasi Kelapa: Dari Rp 24 Triliun Menjadi Rp 2.400 Triliun
Mentan Amran menekankan pentingnya hilirisasi. Nilai ekspor kelapa Indonesia saat ini mencapai Rp 24 triliun. Namun, jika diolah menjadi produk turunan seperti santan, minyak kelapa, dan coconut milk, nilainya diperkirakan bisa melonjak hingga Rp 2.400 triliun, setara dengan 80% APBN Indonesia. Peluang pasar global untuk produk kelapa olahan sangat besar, mengingat negara-negara Eropa dan Tiongkok tidak dapat menanam kelapa.
Dorongan Pembangunan Pabrik Pengolahan
Pemerintah juga mendorong percepatan pembangunan pabrik pengolahan pala dan cengkeh di Maluku Utara. Hilirisasi ini diyakini dapat meningkatkan nilai ekonomi hingga 100 kali lipat dibandingkan mengekspor bahan mentah. Dengan demikian, nilai tambah akan dinikmati oleh petani dan pelaku usaha dalam negeri.
Dukungan Penuh Pemerintah Daerah
Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda, mengapresiasi dan mendukung penuh visi Kementan. Pemprov Malut berkomitmen untuk mengoptimalkan lahan tidur dan mendukung penambahan pabrik pengolahan. Langkah ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas, kualitas hasil, dan ultimately, kesejahteraan petani di Maluku Utara.
Artikel Terkait
Bukit Uluwatu Villa dan Sanurhasta Mitra Bantah Keterkaitan dengan Kasus MPAM
Analis Proyeksikan IHSG Berpotensi Menguat ke Area 8.328-8.527
Wall Street Melemah, Sektor Teknologi Tertekan oleh Kekhawatiran AI dan Data Pasar Tenaga Kerja
OJK Bentuk Satgas Reformasi Integritas Pasar Modal, Naikkan Batas Free Float Jadi 15%