Jumlah di atas turun sebesar 15,78% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2022 yang berada di kisaran USD1,39 miliar atau setara dengan Rp21,62 triliun.
Selain penurunan penghasilan, keuntungan yang diperoleh oleh perusahaan ini juga ikut berkurang.
Per September 2023, badan usaha ini berhasil mencatat penghasilan periode berjalan sebesar USD64,42 juta atau setara dengan Rp998,53 miliar.
Terjadi penurunan sebesar 83,19% dari periode yang sama pada tahun sebelumnya, yakni September 2022.
Per September 2022, emiten batu bara ini berhasil membukukan laba sebesar USD 383,23 juta atau setara Rp5,94 triliun.
Penurunan laba secara signifikan ini terjadi karena adanya penurunan pendapatan dan beban pokok pendapatan yang tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya.
Artikel ini telah lebih dulu tayang di: innalar.com
Artikel Terkait
Wall Street Beringsut di Tengah Data Tenaga Kerja dan Ketegangan Mahkamah Agung
Ultra Voucher Genjot Ekspansi, Targetkan Integrasi dengan Seluruh EDC BCA pada 2026
Empat Emiten Lepas Status Papan Khusus, Perdagangan Kembali Normal Pekan Depan
Menteri Keuangan Bahas Insentif untuk Merger Tiga Anak Usaha Pertamina