Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup menguat pada perdagangan Jumat (10/7/2026), naik 63 poin atau 0,35 persen ke level Rp18.065 per USD. Penguatan ini terjadi meskipun sentimen eksternal masih bergejolak akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Analis Pasar Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, mengatakan bahwa rupiah berhasil menguat di tengah ketidakpastian global. Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata dengan Iran telah berakhir dan memerintahkan serangan lebih lanjut, yang memicu tindakan balasan dari Teheran. "Meskipun laporan Axios mengatakan bahwa mediator regional sedang berupaya menyelamatkan nota kesepahaman AS-Iran, perdamaian di Timur Tengah tampak sepenuhnya tidak pasti," tulis Ibrahim dalam risetnya.
Pertempuran yang kembali terjadi bertepatan dengan pemakaman Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei yang gugur pada hari pertama perang, 28 Februari 2026. Konflik tersebut telah menunda pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur air yang dilalui sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas global setiap hari sebelum perang.
Lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi yang didorong energi, yang pada gilirannya dapat mendorong sikap lebih agresif dari Federal Reserve. Pasar meningkatkan taruhan pada kenaikan suku bunga Fed pada 2026, dengan peluang 63 persen pada pertemuan September menurut CME Fedwatch Tool.
Di sisi lain, jumlah warga AS yang mengajukan klaim tunjangan pengangguran turun pekan lalu, menunjukkan pasar tenaga kerja tetap dalam mode perekrutan dan pemecatan yang lambat. Presiden Federal Reserve New York, John Williams, mengatakan inflasi masih terlalu tinggi dan Fed secara aktif membahas skenario seputar inflasi, tetap berkomitmen mengembalikannya ke target 2 persen.
Dari sentimen domestik, pasar merespons positif pernyataan International Monetary Fund yang mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia di level 5,0 persen pada 2026. IMF juga memproyeksikan produk domestik bruto Indonesia tumbuh 5,1 persen pada 2027, di atas rata-rata pertumbuhan negara berkembang di Asia yang diproyeksikan melambat ke 4,8 persen pada 2026.
Asian Development Bank memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia di level 5,2 persen pada 2026 dan 2027, tidak berubah dari laporan sebelumnya. Meski demikian, proyeksi 5 persen pada tahun ini masih di bawah target pemerintah dalam APBN 2026 sebesar 5,4 persen.
Kenaikan penjualan mobil nasional sepanjang semester I-2026 dinilai belum bisa dijadikan bukti daya beli masyarakat telah pulih sepenuhnya. Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia, penjualan wholesales mencapai 77.550 unit pada Juni 2026, meningkat 12 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan ini melanjutkan pertumbuhan 14 persen pada Mei 2026, menjadi bulan ketiga berturut-turut pertumbuhan tahunan. Secara kumulatif, penjualan mobil baru semester I-2026 mencapai 436.564 unit, naik 15,9 persen, mencerminkan permintaan yang tetap kuat meskipun tekanan inflasi dan kenaikan harga bahan bakar nonsubsidi.
Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi rupiah masih bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp18.060-Rp18.110 per USD.
Artikel Terkait
IHSG Ditutup Menguat, Rupiah Perkasa di Tengah Bursa Asia Hijau
IHSG Dibuka Hijau, Rupiah Tertekan ke Rp 18.128 per Dolar AS
Iran Balas Serangan AS, Targetkan Infrastruktur Militer di Timur Tengah
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Menkeu Minta Tanya BI