Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan kinerja paling buruk di Asia pada semester pertama 2026. Indeks acuan bursa saham Indonesia itu terkoreksi 34,74% secara year-to-date, jauh di bawah rata-rata bursa kawasan yang mayoritas mencatat penguatan.
Tekanan terhadap IHSG berasal dari aksi jual asing yang masif, ancaman penurunan status indeks global, serta sentimen makroekonomi domestik yang kurang kondusif. Dana asing tercatat keluar dalam jumlah besar, bahkan melampaui rekor saat pandemi Covid-19.
Selain itu, lembaga pemeringkat dan penyedia indeks seperti MSCI Inc. memberikan peringatan terkait tata kelola dan jumlah saham beredar (free float) di pasar modal Indonesia. Pelemahan nilai tukar rupiah dan ketidakpastian kebijakan fiskal turut mendorong investor asing untuk keluar.
Meski demikian, di tengah kejatuhan ini, valuasi saham di Bursa Efek Indonesia menjadi salah satu yang paling murah di kawasan. Sejumlah analis melihat potensi rebound jika fundamental ekonomi membaik.
Sebagai perbandingan, bursa Korea Selatan (KOSPI) mencatat penguatan tertinggi di Asia dengan kenaikan 101,14%, disusul Taiwan (TSE) sebesar 59,25%, Jepang (Nikkei 225) 39,18%, Thailand (SET) 26,32%, Singapura (Straits Times) 11,29%, dan Vietnam (VN-Index) 4,23%. Sementara itu, Filipina (PSEi) melemah tipis 0,26%, dan India (SENSEX) turun 10,26%.
Artikel Terkait
PRDL dan RANS Pimpin Kenaikan, IHSG Ditutup Menguat Tipis
IHSG Ditutup Menguat, Rupiah Perkasa di Tengah Bursa Asia Hijau
Anindya Bakrie Optimistis IHSG Pulih dan Tembus Level Tertinggi dalam Tiga Tahun
IHSG Dibuka Menguat ke 5.936, RANS Masuk Jajaran Top Gainers