Patroli siber Polda Metro Jaya mengungkap dugaan tindak pidana perdagangan orang (TPPO) di kawasan Lokasari, Tamansari, Jakarta Barat. Seorang terduga pelaku berinisial RS (40) ditangkap karena diduga berperan sebagai muncikari. Dalam operasi ini, polisi menyelamatkan lima perempuan yang diduga menjadi korban, termasuk satu anak di bawah umur.
Pengungkapan kasus berawal dari penelusuran penyidik terhadap informasi yang beredar di media sosial. Dari pendalaman itu, polisi menemukan indikasi praktik perdagangan orang yang kemudian dikembangkan ke penyelidikan lapangan.
Direktur Reserse PPA dan PPO Polda Metro Jaya Kombes Pol Rita Wulandari Wibowo mengatakan, "Informasi tersebut kemudian ditindaklanjuti melalui profiling dan patroli siber hingga penyidik menemukan indikasi praktik perdagangan orang."
Dari lima korban yang diselamatkan di Lokasari, empat di antaranya perempuan dewasa, sedangkan satu lainnya masih berstatus anak. Polisi menyebut seluruh korban diduga menjadi sasaran eksploitasi seksual.
Rita menjelaskan penyelidikan juga berkaitan dengan sejumlah pembahasan yang sempat ramai di ruang publik. Menurut dia, penyidik mengkaji informasi yang sedang menjadi perhatian, termasuk unggahan yang mengindikasikan adanya eksploitasi terhadap anak. "Dari profiling kami juga berkorelasi dengan ada beberapa pembahasan yang sedang trending pada saat itu, karena ada warga negara asing yang juga memposting adanya indikasi perdagangan anak," katanya.
Selain mengungkap kasus di Lokasari, penyidik juga bergerak ke lokasi lain yang dikenal dengan sebutan Tenda Biru di Cibitung, Kabupaten Bekasi. Dalam operasi di lokasi tersebut, petugas mengamankan 37 orang untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Hasil pendataan sementara menunjukkan delapan orang dari 37 yang diamankan masih berusia di bawah 18 tahun. Penyidik menduga para korban dieksploitasi secara seksual dengan tarif berkisar Rp200 ribu hingga Rp250 ribu per tamu, sementara korban rata-rata menerima sekitar Rp100 ribu.
Untuk penanganan para korban, kepolisian berkoordinasi dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban, UPT PPA DKI Jakarta, serta dinas sosial di DKI Jakarta dan Jawa Barat. Pendampingan dilakukan karena sejumlah korban, terutama anak, disebut mengalami trauma psikologis. Penyidikan kasus ini masih terus berjalan untuk menelusuri kemungkinan keterlibatan pihak lain dalam jaringan TPPO tersebut.
Artikel Terkait
Polda Metro Bongkar Pabrik Uang Palsu Rp 36 Miliar di BSD, Belum Sempat Beredar
PPK GBK Tingkatkan Patroli Usai Viral Video Pria Diduga Cek Nomor Rangka Mobil
Polda Metro Jaya dan Kemenkeu Bongkar Sindikat Meterai Palsu, Negara Rugi Rp 1 Triliun
Polda Metro Jaya dan Ditjen Pajak Bongkar Sindikat Materai Palsu, 3,4 Juta Keping Diamankan