PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) menuntaskan masa penawaran umum perdana pada Selasa (7/7/2026) pagi. Perusahaan alat kesehatan diagnostik itu dijadwalkan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 9 Juli 2026.
Masa penawaran berlangsung sejak 1 Juli. Hingga pagi terakhir, lebih dari 1,25 juta investor telah memesan saham IPO PRDL, menunjukkan antusiasme tinggi terhadap emiten baru di sektor kesehatan tersebut.
Penjatahan efek dilakukan hari ini, sementara distribusi saham dijadwalkan pada Rabu (8/7/2026).
Dalam aksi korporasi ini, Proline menerbitkan 522,9 juta saham baru, setara 30 persen dari modal ditempatkan dan disetor penuh setelah IPO. Harga penawaran ditetapkan Rp120 per saham.
Dengan price earning ratio (PER) 8,61 kali, harga IPO dinilai kompetitif dibandingkan rata-rata saham industri kesehatan. Dana yang terkumpul akan digunakan untuk pengembangan usaha dan memperkuat posisi perseroan di sektor alat kesehatan diagnostik nasional.
Direktur Utama PT Prodia Diagnostic Line Tbk, Cristina Sandjaja, mengatakan perseroan merupakan salah satu pionir produsen alat kesehatan diagnostik dalam negeri yang telah beroperasi lebih dari 14 tahun.
Proline saat ini memiliki 1.083 SKU yang menjangkau 38 provinsi dan 370 kabupaten/kota, serta dipakai oleh lebih dari 7.600 pelanggan di Indonesia. Jaringan itu mencakup 6.924 puskesmas, 288 rumah sakit, 317 dinas kesehatan kabupaten dan kota, serta puluhan institusi kesehatan lainnya.
Cristina menilai prospek industri masih sangat menjanjikan. Pemerintah mengalokasikan anggaran kesehatan Rp244 triliun pada 2026 dan menargetkan program skrining kesehatan nasional yang menjangkau sekitar 140 juta penduduk. Didukung lebih dari 10 ribu puskesmas di seluruh Indonesia dan fokus pemerintah terhadap deteksi dini penyakit, industri in vitro diagnostics diperkirakan masih memiliki ruang pertumbuhan besar dalam beberapa tahun ke depan.
"Kami melihat peluang pertumbuhan yang masih sangat besar, terutama pada fasilitas kesehatan primer yang belum seluruhnya terjangkau. Dengan jaringan distribusi yang telah mencakup hampir seluruh Indonesia serta dukungan produk ber-TKDN tinggi, kami optimistis dapat memperluas penetrasi pasar sekaligus menjadi mitra strategis pemerintah dalam penguatan layanan kesehatan nasional," katanya.
Dari sisi kinerja, PRDL menunjukkan pemulihan menjelang IPO. Sepanjang 2025, perseroan membukukan pendapatan Rp74,4 miliar, meningkat 27 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Laba bersih tumbuh 70,7 persen menjadi Rp16,9 miliar, sedangkan EBITDA meningkat 66,9 persen menjadi Rp29,2 miliar, mencerminkan penguatan profitabilitas dan efisiensi operasional.
Dengan fundamental bisnis yang terus bertumbuh dan prospek industri yang masih terbuka lebar, PRDL optimistis dapat memanfaatkan momentum IPO untuk memperluas jangkauan bisnis, meningkatkan kapasitas operasional, dan memperkuat kontribusi terhadap pengembangan industri alat kesehatan nasional.
Artikel Terkait
Saham JECX Melesat 24,8% di Hari Perdana, Oversubscribed 62,5 Kali
Saham JECX Debut di BEI Hari Ini, Harga IPO Rp1.250 per Lembar
Esa Medika Patok Harga IPO Rp470 per Saham, Kantongi Dana Rp245,7 Miliar
RANS Entertainment Patok Harga IPO Rp170 per Saham, Raup Dana Rp429 Miliar