Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia kembali menunjukkan sinyal pelemahan yang serius. Pada Juni 2026, indeks tersebut terkontraksi ke level 46,9, turun tajam dari posisi netral 50 pada Mei. Skor ini bahkan lebih rendah dibandingkan kontraksi April yang berada di angka 49,1.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani, mengatakan bahwa penurunan ini merupakan yang terendah dalam setahun terakhir. Menurutnya, proses stabilisasi yang sebelumnya mulai terlihat belum berlanjut menjadi pemulihan yang kuat.
“Kontraksi pada Juni menunjukkan tekanan yang kembali menebal, baik dari sisi permintaan, produksi, biaya, maupun keputusan operasional perusahaan,” kata Shinta kepada kumparan, Sabtu (4/7).
Pelemahan permintaan dari pasar domestik maupun ekspor menjadi faktor utama yang membebani sektor manufaktur. Pesanan baru turun untuk pertama kalinya dalam tiga bulan dengan laju tercepat dalam setahun, mencerminkan melemahnya daya beli dan permintaan pasar di tengah kenaikan harga.
“Pada saat yang sama, tekanan eksternal masih sangat kuat, seiring ketidakpastian global, perlambatan di sejumlah pasar utama, dan dampak tensi geopolitik terhadap perdagangan serta rantai pasok,” ucap Shinta.
Tekanan juga datang dari sisi biaya produksi yang masih sangat tinggi. Kenaikan harga bahan baku, energi, gangguan rantai pasok, dan volatilitas nilai tukar rupiah memberikan tekanan langsung terhadap struktur biaya industri. Shinta menyebut kondisi ini memberatkan dunia usaha karena sebagian besar kebutuhan bahan baku dan barang di industri nasional masih bergantung pada impor.
Selain itu, peningkatan ketidakpastian usaha membuat pelaku industri semakin berhati-hati dalam mengambil keputusan produksi, pembelian bahan baku, ekspansi, maupun penyerapan tenaga kerja. Dalam laporan PMI, tercatat penurunan pembelian input dan penyesuaian tenaga kerja pada laju tercepat dalam hampir lima tahun.
“Kontraksi ini tidak hanya terjadi di level angka indeks, tetapi dikhawatirkan sudah mulai tercermin dalam keputusan operasional perusahaan,” kata Shinta.
Pelaku industri kini lebih memilih bertahan dengan menjaga arus kas, menyesuaikan produksi dengan permintaan yang melemah, mengurangi pembelian bahan baku, dan menunda ekspansi. Industri yang bergantung pada bahan baku impor, energi, dan pasar ekspor diperkirakan menghadapi tekanan lebih besar dibanding sektor yang bertumpu pada pasar domestik.
Dalam jangka menengah hingga panjang, Apindo mendorong percepatan reformasi struktural, seperti penyederhanaan regulasi, efisiensi logistik, penguatan industri hulu, dan pengembangan bahan baku domestik guna mengurangi ketergantungan impor.
“Kami melihat penurunan PMI Juni ini sebagai warning signal yang perlu segera direspons secara terukur. Sektor manufaktur Indonesia masih memiliki daya tahan, terutama karena basis pasar domestik yang besar dan potensi pergeseran rantai pasok dunia, tetapi daya tahan tersebut tidak boleh dianggap otomatis,” terangnya.
“Tanpa stabilisasi biaya, penguatan daya beli, dan perbaikan iklim usaha, tekanan terhadap manufaktur masih berisiko berlanjut dalam beberapa bulan ke depan,” tutup Shinta.
Artikel Terkait
Apindo Minta Pemerintah Waspadai Defisit Perdagangan Mei 2026
PMI Manufaktur RI Kontraksi, Kemnaker Siapkan Langkah Antisipasi
Rupiah Melemah ke Rp17.995 per USD, Tertekan Sentimen Negatif Domestik dan Global
Kemenperin Perkuat Kebijakan Strategis Hadapi Tekanan Global dan Penurunan PMI Manufaktur