IHSG Anjlok 2,15 Persen, Rupiah Tembus Rekor Terendah di Tengah Tekanan Pasar Global

- Selasa, 19 Mei 2026 | 11:50 WIB
IHSG Anjlok 2,15 Persen, Rupiah Tembus Rekor Terendah di Tengah Tekanan Pasar Global

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan signifikan pada perdagangan Selasa (19/5/2026), terkoreksi lebih dari dua persen seiring nilai tukar rupiah yang kembali menyentuh titik terendah sepanjang masa. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), pada pukul 11.18 WIB, indeks utama bursa saham nasional itu tergelincir 2,15 persen ke level 6.457,03. Penurunan ini sekaligus memperpanjang catatan negatif IHSG yang telah melemah selama enam sesi beruntun.

Volume perdagangan tercatat cukup deras dengan nilai transaksi mencapai Rp11,14 triliun dari pergerakan 17,95 miliar lembar saham. Dari total saham yang diperdagangkan, sebanyak 483 saham berada di zona merah, sementara 193 saham berhasil menguat dan 283 saham lainnya stagnan. Sehari sebelumnya, IHSG sudah ditutup terkoreksi 1,85 persen setelah sempat anjlok hingga 4,38 persen selama perdagangan intraday, dipengaruhi oleh rebalancing indeks global MSCI, pengumuman FTSE Russell, serta pelemahan rupiah yang terus berlanjut.

Analis Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto, menilai tekanan terhadap rupiah masih berlanjut pada hari ini. Menurutnya, pelemahan tajam mata uang Garuda itu dipicu oleh efek rambatan dari aksi jual besar-besaran di pasar obligasi global. Meskipun demikian, investor asing tercatat masih melakukan pembelian selektif pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar, seperti BBCA, BMRI, dan BBRI, yang mengindikasikan adanya strategi selective positioning di tengah ketidakpastian pasar.

Menjelang pengumuman Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia, konsensus pasar memperkirakan bank sentral akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi lima persen guna menopang stabilitas rupiah. Namun, Mirae Asset justru memiliki pandangan berbeda. Rully menyatakan bahwa pihaknya memperkirakan BI akan mempertahankan suku bunga di level 4,75 persen dengan pendekatan hawkish hold.

“Kenaikan suku bunga memiliki efektivitas yang terbatas karena tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipengaruhi faktor musiman, seperti repatriasi dividen dan kebutuhan musim haji, yang diperkirakan mulai mereda pada Juli hingga Agustus,” ujar Rully. Ia menambahkan bahwa kekhawatiran pasar terkait keberlanjutan fiskal tidak bisa diselesaikan hanya melalui pengetatan moneter. Mirae Asset memperkirakan BI akan lebih mengandalkan intervensi agresif di pasar valas serta pengelolaan likuiditas, sambil tetap menjaga momentum pertumbuhan ekonomi.

Di sisi lain, BRI Danareksa Sekuritas memiliki proyeksi yang berbeda. Lembaga ini memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,00 persen dalam RDG pada Rabu (19/5), seiring tekanan terhadap rupiah yang terus berlanjut. Menurut analis BRI Danareksa, pelemahan rupiah yang mencetak rekor terendah baru dipicu oleh kombinasi penguatan dolar AS, kenaikan yield US Treasury, serta lonjakan harga minyak dunia di atas 100 dolar AS per barel akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Secara historis, kenaikan suku bunga biasanya menjadi sentimen negatif jangka pendek bagi pasar saham karena meningkatkan biaya dana dan menekan minat investor terhadap aset berisiko. Namun, dalam situasi saat ini, BRI Danareksa menilai langkah kenaikan suku bunga justru dapat dipersepsikan positif oleh pasar apabila mampu memperkuat stabilitas rupiah dan meredam tekanan capital outflow dari pasar keuangan domestik.

“Pergerakan saham perbankan yang masih relatif kuat hari ini menunjukkan pasar mulai mengantisipasi kebijakan hawkish sebagai langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas makro,” tulis BRI Danareksa dalam risetnya.

Sementara itu, mayoritas ekonom yang disurvei oleh Reuters pada periode 11 hingga 18 Mei lalu juga memprediksi Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga acuan. Dari 29 ekonom yang menjadi responden, sebanyak 16 di antaranya memperkirakan BI akan menaikkan suku bunga reverse repo tujuh hari menjadi lima persen. Mirae Asset menilai bahwa rupiah dan IHSG masih rentan terhadap potensi arus keluar dana asing dalam jangka pendek, sehingga pelaku pasar diminta untuk mencermati implementasi kebijakan non-suku bunga Bank Indonesia sebagai faktor utama stabilisasi pasar keuangan domestik.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar