IDXChannel – Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk, atau yang lebih akrab disapa BRI (BBRI), lagi-lagi tertekan. Ini seiring dengan IHSG yang juga sedang lesu, dan sektor perbankan secara umum ikut terimbas.
Tapi, jangan buru-buru panik. Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, bilang fundamental bisnis perusahaan masih solid. Menurut dia, investor nggak perlu khawatir apalagi kalau investasinya bukan untuk jangka pendek. Fluktuasi harga saham di BEI? Itu sudah biasa, katanya.
“Anda enggak usah terlalu lihat, karena kita seperti saya juga adalah investor yang jangka menengah dan jangka panjang. Kita enggak usah lihat harga saham naik turun, naik turun itu bikin namanya tekanan darah naik juga begitu kan, stresnya naik,” ujarnya dalam konferensi pers virtual, Kamis (30/4/2026).
Daripada sibuk lihat grafik naik turun, Hery menyarankan investor untuk lebih jeli mencermati fundamental perusahaan. Salah satu yang dia tonjolkan adalah dividend yield saham BBRI yang katanya sangat tinggi bahkan sampai dua digit. Dengan laba yang solid, BRI disebut mampu ngasih return yang jauh di atas instrumen investasi lain.
“Walaupun harga saham tadi dikatakan bahwa ada mengalami tekanan di bawah sekitar 15-16 persen, enggak usah dilihat itu, (lihat) dividend ratio-nya dan dividen kita kan cukup bagus ya, jadi paling tidak bisa memberikan antara 10-11 persen return per tahun. Mau cari investasi di mana sebesar itu? Deposito saja mungkin hanya 7 persen. Reksa dana pasar uang mungkin sekitar 5,5-6 persen,” katanya.
Dia yakin tekanan ini cuma sementara. Begitu kondisi makroekonomi baik global maupun lokal mulai membaik, harga saham perusahaan berfundamental seperti BRI bakal ikut naik lagi. Tinggal tunggu waktu, katanya.
Di sisi lain, Direktur Finance & Strategy BRI, Achmad Royadi, sebelumnya juga angkat bicara. Menurut dia, pelemahan saham BBRI saat ini lebih mencerminkan dinamika pasar modal secara luas dan persepsi investor global. Bukan karena kinerja internal yang jelek.
“Jadi kalau kita melihat ya, kalau melihat dari fundamental yang bagus, kami mencermati bahwa ini lebih ke faktor S&L (supply and demand) dibandingkan dengan faktor fundamental sendiri. Dari sisi fundamental kita juga selain kita yang bagus, kita juga kemarin baru di RUPS mengumumkan bahwa kita membagi dividen yang rasionya juga cukup tinggi ya, 92 persen dari laba tahun 2025,” kata Royadi.
Royadi menegaskan, dari laporan keuangan kuartal I 2026, posisi BRI sangat kuat. Laba bersih tumbuh 13,7 persen. Jadi, kalau ada yang khawatir, mungkin perlu lihat lagi angka-angkanya.
Artikel Terkait
Pendapatan Cinema XXI Tembus Rp1,1 Triliun di Kuartal I-2026, Naik 18,2 Persen
Pemerintah Targetkan Program B50 Serap 1,9 Juta Tenaga Kerja pada 2026
ESSA Cetak Laba Bersih Melonjak 131 Persen di Awal 2026, Didorong Kenaikan Harga Amoniak
Powell Tolak Mundur, Pilih Lanjut sebagai Gubernur The Fed Usai Jabatan Ketua Berakhir