Investor Asing Lepas Saham Rp2,4 Triliun, IHSG Justru Naik 2,35%

- Minggu, 19 April 2026 | 10:20 WIB
Investor Asing Lepas Saham Rp2,4 Triliun, IHSG Justru Naik 2,35%

Sepanjang pekan lalu, aksi jual investor asing masih terasa agresif di pasar saham domestik. Catatannya, mereka melepas saham senilai Rp2,40 triliun secara bersih di pasar reguler. Fokusnya? Utamanya pada saham-saham unggulan, khususnya di sektor perbankan besar.

Di posisi puncak, PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) jadi sasaran utama. Net sell-nya mencapai Rp1,09 triliun. Yang menarik, meski dibombardir jual, harga sahamnya justru masih mampu naik 1,18% ke level Rp3.430 per unit. Di belakangnya, ada PT Bank Central Asia (BBCA) dengan net sell Rp995,23 miliar. Sahamnya malah terkoreksi 4,10% ke Rp6.425. Lalu, PT Bank Mandiri (BMRI) ikut dilepas Rp562,14 miliar dengan penurunan harga 1,07%.

Tekanan jual ternyata tak cuma di perbankan. Saham-saham dalam lingkaran konglomerasi besar juga ikut tertekan. Dari Grup Bakrie, misalnya. PT Bumi Resources (BUMI) dilepas Rp554,74 miliar meski harganya naik tipis. Sementara itu, PT Bumi Resources Minerals (BRMS) mencatat net sell Rp125,52 miliar.

Grup Barito juga masuk dalam radar. PT Petrosea (PTRO) masuk daftar dengan net sell Rp174,87 miliar. Padahal, harga sahamnya justru melonjak 15,35% dalam sepekan. Begitu pula dengan PT Barito Pacific (BRPT) yang dilepas Rp74,04 miliar, harganya malah melesat 16,45%. Fenomena serupa terlihat di saham PT Amman Mineral Internasional (AMMN) dari kelompok Salim dan PT Aneka Tambang (ANTM). Keduanya dicatat net sell, tapi harganya justru naik.

Nah, ini yang menarik. Di tengah derasnya arus keluar modal asing, pasar saham kita justru bergerak naik. IHSG berhasil menguat 2,35% sepanjang pekan, ditutup di level 7.634,00. Penguatannya justru ditopang oleh saham-saham berkapitalisasi besar milik konglomerat itu tadi, terutama dari Barito.

Sentimen global pekan lalu juga cukup mendukung. Harga minyak dunia anjlok setelah Iran memastikan Selat Hormuz tetap terbuka selama masa gencatan senjata. Kabar ini meredakan ketegangan pasokan energi.

“Penurunan harga minyak menjadi penggerak utama seluruh pergerakan pasar,” kata Tom di Galoma, Managing Director Global Rates Trading di Mischler Financial Group.

“Apakah kita benar-benar akan melihat gencatan senjata yang berkepanjangan dan pembukaan kembali selat? Saya belum yakin. Prosesnya tampaknya masih butuh waktu untuk benar-benar tuntas. Namun untuk saat ini, itulah yang sedang terjadi. Semuanya dipicu oleh kabar-kabar positif dari kawasan Teluk,” ujarnya.

Reli minyak ini diikuti oleh kenaikan di bursa saham global. Indeks utama seperti S&P 500, Nasdaq, dan Dow Jones mencetak rekor penutupan baru. Koreksi harga energi juga bikin tekanan inflasi mereda dan mendorong penguatan obligasi pemerintah AS. Imbal hasil US 10-year Treasury yield pun turun.

Belum lagi pelemahan dolar AS karena premi risiko geopolitik yang mereda. Ini semua memberi ruang lebih luas bagi aset berisiko, termasuk pasar negara berkembang seperti Indonesia.

Tapi, ceritanya belum selesai. Perkembangan terbaru, Selat Hormuz dilaporkan kembali ditutup oleh Iran pada Sabtu (18/4). Padahal, baru beberapa jam sebelumnya dibuka untuk lalu lintas non-militer.

Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan jalur perairan vital itu akan tetap di bawah kendali militer ketat. Alasannya, sampai kebebasan pelayaran bagi kapal-kapal Iran dipulihkan sepenuhnya.

Keputusan ini diambil karena Washington dinilai belum mencabut blokade lautnya dan masih melanjutkan apa yang mereka sebut sebagai “tindakan pembajakan”.

Keputusan pembelian atau penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar