Nyatanya, hingga bel penutupan berbunyi, Iran belum juga membuka Selat Hormuz. Padahal ancaman Trump sudah jelas: kesepakatan harus tercapai sebelum Selasa berakhir. Serangan terhadap Iran pun semakin menjadi.
Perang yang dimulai AS dan Israel pada akhir Februari lalu benar-benar mengacaukan pasar. Harga minyak melonjak, kekhawatiran inflasi membubung, dan harapan akan penurunan suku bunga The Fed tahun ini pun meredup.
Di tengah semua ini, data ekonomi juga kurang menggembirakan. Pesanan barang tahan lama AS pada Februari sebelum perang ternyata turun lebih dalam dari perkiraan. Laporan inflasi (CPI) yang akan dirilis pekan ini ditunggu untuk mengukur seberapa dalam dampak perang ini terhadap harga-harga.
Pergerakan saham hari itu terbilang ekstrem. Indeks S&P 500 mencatat tiga rekor tertinggi baru, tapi juga sembilan rekor terendah baru dalam 52 minggu. Nasdaq lebih dramatis lagi: 54 rekor tertinggi dan 119 rekor terendah baru.
Volume perdagangan terpantau mencapai 18,78 miliar saham. Angka ini sedikit lebih rendah dari rata-rata 20 hari terakhir yang sebesar 19,35 miliar saham. Pasar seperti sedang menarik napas, menunggu perkembangan selanjutnya dari Timur Tengah.
Artikel Terkait
Pasar Logam Menguat Usai Gencatan Senjata AS-Iran Buka Kembali Selat Hormuz
Bursa Asia Melonjak, Harga Minyak Anjlok Usai AS-Iran Sepakat Gencatan Senjata
Analis Prediksi IHSG Berpeluang Rebound, Level 7.050 Jadi Kunci
IHSG Melonjak 2,75% di Awal Sesi, Semua Sektor Berbalut Hijau