Tapi, ada satu hal yang menarik perhatian: harga minyak. Minyak justru ambles sampai 3%, menyeret indeks energi S&P 500 ke level terendah dalam lebih dari seminggu. Ini seperti paradoks. Isu perdamaian biasanya bikin minyak turun karena kekhawatiran pasokan berkurang, dan itulah yang terjadi. Pasar energi langsung kena getahnya.
Fokus berikutnya kini beralih ke laporan ketenagakerjaan AS yang akan dirilis Jumat. Meski pasar tutup untuk libur Jumat Agung, angka non-farm payrolls Maret itu pasti akan jadi bahan pembicaraan hangat. Ini akan jadi penanda penting.
Yang juga berubah adalah ekspektasi terhadap Fed. Suasana sekarang sudah jauh berbeda. Para pelaku pasar uang praktis menyingkirkan harapan untuk pemotongan suku bunga tahun ini. Perang dan gejolak energi telah mengubur prediksi dua kali pelonggaran kebijakan moneter yang sebelumnya beredar. Kekhawatiran inflasi kembali mengemuka, mengubah seluruh kalkulus.
Jadi, kenaikan hari ini memang memberi angin segar. Tapi di balik itu, tetap ada kehati-hatian. Pasar seperti sedang menari di antara sentimen politik yang berubah-ubah dan realitas data ekonomi yang keras.
Artikel Terkait
MNC Digital Entertainment (MSIN) Targetkan Dual Listing di Bursa Internasional pada 2026
Laba Bersih MNC Digital Entertainment Melonjak 140% Jadi Rp985 Miliar di 2025
Wintermar Hentikan Program Buyback Lebih Cepat, Alihkan Sisa Dana untuk Operasional
Anabatic Technologies Catat Kenaikan Laba Bersih 13,2% Meski Pendapatan Turun