Dan soal serapan itu, datanya pun mencengangkan. Realisasi pengadaan beras dalam negeri melesat drastis. Coba bandingkan: di Maret 2024, pengadaannya sekitar 24,6 ribu ton. Satu tahun kemudian, Maret 2025, angkanya sudah melambung ke 610,2 ribu ton. Perubahan yang terjadi dalam waktu singkat itu menunjukkan akselerasi serapan yang benar-benar masif.
Di sisi lain, Amran menegaskan bahwa cadangan beras yang kuat ini punya dampak nyata. Kontribusinya terhadap stabilitas harga pangan, terutama di bulan Ramadan seperti sekarang, sangat signifikan. Beras, yang dulu kerap jadi biang kerok inflasi, kini perannya berubah.
"Jadi alhamdulillah, bulan suci Ramadan, bukan harga beras menjadi penyumbang inflasi. Dan 10 sampai 20 tahun terakhir, biasanya nomor satu penyumbang inflasi adalah beras," tegas Amran.
Data BPS sepertinya membenarkan klaim itu. Inflasi beras bulanan hingga Februari 2026 tercatat rendah, hanya 0,43 persen. Bandingkan dengan puncak-puncaknya dulu, seperti 5,61 persen di September 2023 atau 5,28 persen di Februari 2024. Jauh sekali.
Yang juga patut dicatat, secara historis inflasi beras bulanan sudah tak pernah menembus indeks 2 persen sejak Juni 2024. Artinya, dalam hampir dua tahun terakhir, harga beras dari tingkat petani sampai ke meja makan relatif berhasil dikendalikan. Pencapaian ini tak bisa dianggap remeh, mengingat tantangan di pasar pangan global belakangan ini sama sekali tidak mudah.
Artikel Terkait
Wall Street Melonjak Usai Trump Beri Isyarat Perdamaian dengan Iran
MNC Digital Entertainment (MSIN) Targetkan Dual Listing di Bursa Internasional pada 2026
Laba Bersih MNC Digital Entertainment Melonjak 140% Jadi Rp985 Miliar di 2025
Wintermar Hentikan Program Buyback Lebih Cepat, Alihkan Sisa Dana untuk Operasional