Secara garis besar, dananya akan dipakai untuk dua hal utama: modal kerja perusahaan induk untuk produksi film dan sinetron, serta penyertaan modal ke PT Platinum Sinema. Perusahaan bioskop itu hampir sepenuhnya tepatnya 99,99% dimiliki oleh RAAM.
Namun begitu, detail alokasi dananya masih belum jelas. Perseroan belum mau merinci berapa persisnya yang akan dialirkan untuk pengembangan jaringan bioskop. Informasi lebih lengkap, termasuk harga penawaran rights issue-nya, baru akan dibongkar dalam prospektus. Dokumen itu sendiri masih menunggu persetujuan dari pemegang saham dalam RUPSLB yang dijadwalkan pada 5 Mei mendatang.
Harga pelaksanaannya pun masih jadi tanda tanya. Kalau mengacu harga saham RAAM yang berkisar di Rp206, potensi dana yang bisa digalang mencapai Rp280 miliar. Tapi jangan berharap setinggi itu. Biasanya, harga rights issue ditetapkan lebih rendah dari harga pasar. Tujuannya jelas, agar investor tertarik untuk menebus hak mereka.
Jadi, semua masih menunggu keputusan dari ruang rapat para pemegang saham. Hasilnya nanti akan menentukan seberapa cepat rencana ekspansi 50 teater baru itu bisa benar-benar diwujudkan.
Artikel Terkait
Puncak Arus Balik Lebaran, Pertamina Siagakan Ribuan SPBU dan Layanan Darurat
ABM Investama Fokus Optimalisasi Dua Tambang Andalan di Aceh dan Kalteng
Kemenhub Siaga Penuh Antisipasi Puncak Arus Balik 28-29 Maret 2026
IHSG Melemah Tipis, Transaksi Harian Justru Naik 15% Pasca-Lebaran