Harga Emas Anjlok 2,84%, Tertekan Dolar AS dan Ketegangan Timur Tengah

- Jumat, 27 Maret 2026 | 07:50 WIB
Harga Emas Anjlok 2,84%, Tertekan Dolar AS dan Ketegangan Timur Tengah

Lalu ada minyak. Harganya terus naik seiring prospek konflik yang berkepanjangan. Ketegangan di Timur Tengah selalu bikin deg-degan, khawatir pasokan energi global bakal terganggu. Dan kalau harga energi melambung, ya sudah, tekanan inflasi di berbagai negara bisa makin menjadi-jadi.

Negosiasi di balik layar pun tampaknya alot. Seorang pejabat senior Iran menyebut proposal dari AS untuk mengakhiri konflik yang sudah berjalan hampir empat pekan ini sebagai sesuatu yang "sepihak dan tidak adil".

Sementara dari kubu lain, Presiden AS Donald Trump punya sinyal berbeda. Ia menyebut Iran mengizinkan 10 kapal tanker melintasi Selat Hormuz sebagai sebuah isyarat itikad baik. Semuanya masih dalam tarik ulur.

Dampak perang yang dimulai akhir Februari lalu ternyata cukup dalam bagi emas. Sejak 28 Februari, harga logam mulia ini sudah merosot sekitar 17 persen. Cukup dalam.

Analis dari Intesa Sanpaolo mencatat, gerakan spekulatif dalam beberapa kuartal terakhir telah mengikis kemampuan emas dan perak sebagai aset safe-haven, setidaknya untuk jangka pendek. Pencarian likuiditas di awal-awal konflik justru memicu aksi jual besar-besaran terhadap kedua logam ini.

Pelemahan tak hanya terjadi pada emas. Logam mulia lainnya ikut terpuruk. Perak spot jatuh 5 persen ke USD 67,71. Platinum juga melemah 4,2 persen ke level USD 1.839,67. Palladium tak kalah, turun 5 persen menjadi USD 1.352,82. Pasar komoditas logam mulia hari itu benar-benar diselimuti awan merah.

Editor: Erwin Pratama


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar