Harga Minyak Global Turun 2% di Tengah Ketegangan Respons Iran atas Proposal AS

- Kamis, 26 Maret 2026 | 07:40 WIB
Harga Minyak Global Turun 2% di Tengah Ketegangan Respons Iran atas Proposal AS

Harga minyak sempat terjun bebas di awal sesi Rabu kemarin. Tapi, penurunan itu akhirnya dipangkas. Pada penutupan perdagangan, minyak global hanya turun sekitar 2 persen. Sentimen pasar bergantung pada satu hal: respons Iran terhadap proposal perdamaian dari Amerika Serikat.

Kontrak berjangka Brent, patokan minyak dunia, akhirnya merosot 2,2% ke level USD102,22 per barel. Sementara itu, minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI), juga terkoreksi dengan persentase yang sama, ke posisi USD90,32. Padahal, dalam perjalanan sesinya, Brent sempat anjlok hampir 7 persen. Fluktuasi yang cukup gila.

Lalu, apa yang terjadi dengan proposal AS itu? Menurut seorang pejabat senior Iran yang berbicara kepada Reuters, Teheran masih meninjau tawaran Washington. Respons awal mereka memang terkesan negatif, tapi itu bukan penolakan mutlak. Artinya, pintu dialog masih terbuka, meski sumpeg.

Di sisi lain, Gedung Putih tak mau kalah bersuara.

Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan Presiden Donald Trump akan meningkatkan tekanan terhadap Iran. Syaratnya, kata dia, Iran harus mengakui bahwa mereka telah "dikalahkan secara militer".

Di permukaan, para pejabat Iran memang mencaci maki kemungkinan bernegosiasi dengan pemerintahan Trump. Namun, ada sesuatu yang menarik. Keterlambatan mereka menyampaikan jawaban resmi kepada Pakistan yang membawa proposal 15 poin AS menunjukkan bahwa di balik layar, sebagian elite di Teheran masih memikirkannya. Masih ada pertimbangan.

Analis Ritterbusch and Associates mencatat, pergerakan harga minyak ke depan akan tetap liar, mengikuti setiap detak perkembangan perang ini. Gedung Putih berusaha menonjolkan kemajuan pembicaraan, sementara Iran membantah ada kemajuan sama sekali. Tarik-ulur seperti inilah yang membatasi potensi penurunan harga lebih dalam. Volatilitasnya sendiri sudah melonjak. Tingkat volatilitas historis kedua acuan minyak mentah bahkan mencapai level tertinggi sejak April 2022.

Dampak perang ini nyata dan brutal. Pengiriman minyak dan gas alam cair (LNG) lewat Selat Hormuz jalur vital yang biasa dilalui seperlima pasokan global hampir sepenuhnya terhenti. Badan Energi Internasional (IEA) menyebutnya sebagai gangguan pasokan minyak terbesar sepanjang sejarah. Kerugiannya? Sekitar 20 juta barel per hari hilang, atau setara 500 juta barel sejak perang dimulai akhir Februari. Angka yang fantastis, setara dengan lima hari pasokan minyak dunia.

Gedung Putih menyatakan AS memantau ketat upaya mengamankan jalur tanker. Sementara itu, ada perkembangan menarik dari India. Untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun, mereka membeli kargo LPG dari Iran. Ini terjadi setelah AS sementara mencabut sanksi terhadap minyak dan bahan bakar olahan Iran. Di tempat lain, Jepang mendesak IEA untuk melepas cadangan minyak secara terkoordinasi guna melindungi konsumen. Meski begitu, data terbaru menunjukkan AS sendiri belum mulai mengambil minyak dari cadangan strategisnya.

Gangguan pasokan tak cuma datang dari Teluk. Serangkaian serangan drone Ukraina berhasil mengacaukan ekspor Rusia. Dua pelabuhan Baltik utama mereka, Primorsk dan Ust-Luga, terpaksa menghentikan pemuatan. Asap kebakaran bahkan terlihat sampai Finlandia! Perhitungan Reuters menunjukkan setidaknya 40% kapasitas ekspor minyak Rusia kini terhenti, gabungan dari serangan drone, gangguan pipa, dan penyitaan tanker.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, dalam wawancaranya dengan Reuters, menyoroti tawaran jaminan keamanan dari AS. Menurutnya, tawaran itu bergantung pada satu hal: kesediaan Kyiv untuk menyerahkan seluruh wilayah Donbas kepada Rusia. Situasi yang pelik.

Sementara itu, di belahan dunia lain, Uni Eropa mempertimbangkan langkah untuk meredam volatilitas harga energi di masa depan. Pemerintahan Trump, di sisi lain, memilih jalan lain: menangguhkan sementara regulasi bensin musiman anti-polusi demi menekan harga di pom bensin. Di Venezuela, produksi minyak justru merangkak naik, mencapai 1,1 juta barel per hari pada Maret.

Laporan terakhir dari AS sendiri cukup mengejutkan. Energy Information Administration (EIA) melaporkan perusahaan energi AS menambahkan 6,9 juta barel minyak mentah ke dalam persediaan pekan lalu. Angka ini jauh melampaui perkiraan analis yang hanya 500.000 barel, dan bahkan lebih tinggi dari laporan industri yang mencatat kenaikan 2,4 juta barel. Tambahan yang signifikan, di tengah ketegangan global yang mencekam.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar