Jake Dollarhide dari Longbow Asset Management mencoba membaca situasi yang tampak paradoks ini. Menurutnya, meski minyak mahal, ada optimisme jangka pendek yang tersisa.
"Dengan kabar Israel menewaskan Kepala Keamanan Iran Ali Larijani semalam, pasar sepertinya masih punya harapan. Tapi jangan salah," katanya.
"Kondisinya tetap rapuh. Berita buruk apa pun terkait perdagangan minyak atau konflik yang berkepanjangan, bisa dengan gampang membalikkan keadaan dan membuat indeks volatilitas (VIX) melonjak."
Konflik di Timur Tengah sendiri makin panas. Israel mengklaim telah menewaskan Ali Larijani dalam sebuah serangan udara, seperti dilaporkan Wall Street Journal. Bukan cuma dia, sejumlah media juga memberitakan tewasnya Gholamreza Soleimani, Komandan Unit Paramiliter Basij Iran. Namun, kabar ini belum dikonfirmasi oleh otoritas atau media lokal Iran.
Di tengah gejolak itu, perhatian juga tertuju ke Selat Hormuz. Jalur laut vital di selatan Iran ini masih ditutup. Menariknya, Iran menyatakan selat itu terbuka untuk semua kapal kecuali kapal-kapal milik AS dan sekutunya. Padahal, sekitar seperlima pasokan minyak dunia biasa melewati jalur sempit ini. Situasinya benar-benar genting.
Artikel Terkait
Saham Asia Menguat Didorong AI, Waspada Gejolak Harga Minyak
Saham Konglomerat Terjun Bebas, Anjlok Hingga 40% Menjelang Lebaran
Serangan ke Pelabuhan Fujairah Picu Lonjakan Harga Minyak dan Ancaman Disrupsi Pasokan Global
Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Bahan Baku, Produsen Kemasan EPAC Naikkan Harga Jual