“Ini bukan perang kami, kami tidak memulainya,” katanya.
Presiden Prancis Emmanuel Macron juga menyatakan hal serupa. Negaranya, kata dia, tidak akan terlibat dalam operasi membuka blokade. Prancis hanya akan bergabung dengan koalisi yang menjamin kebebasan navigasi setelah konflik usai.
Namun begitu, ada sedikit angin segar. Beberapa kapal, termasuk yang dioperasikan Iran, berhasil melintasi selat pada Senin. Momen itu sempat mendorong harga turun. Tapi kekhawatiran akan disrupsi parah tetap membayangi.
Bank investasi Cavendish dalam catatannya menyebut, meski meredakan ketegangan sesaat, pasar masih memperkirakan gangguan akan berlanjut.
Pandangan dari Gedung Putih justru lebih optimis. Penasihat ekonomi Kevin Hassett menyebut konflik Iran ini diperkirakan berlangsung dalam hitungan pekan, bukan bulan. Ia juga menegaskan bahwa beberapa kapal tanker sudah mulai melintas lagi.
Lantas, ke mana harga akan bergerak? Analis OANDA Kelvin Wong melihat potensi kenaikan hingga akhir Maret. Dari analisis teknikal, resistance jangka menengah untuk WTI ada di kisaran USD124 per barel.
Sementara itu, untuk meredam biaya energi yang melambung, kepala IEA punya usulan. Negara anggota bisa melepas tambahan pasokan minyak, di luar 400 juta barel yang sudah disepakati dari cadangan strategis mereka.
Jadi, meski ada peluang perdamaian, pasar tampaknya belum siap untuk tenang. Setiap berita serangan atau kapal yang melintas bisa dengan mudah menggoyang harga naik-turun dalam hitungan jam.
Artikel Terkait
Saham Asia Menguat Didorong AI, Waspada Gejolak Harga Minyak
Saham Konglomerat Terjun Bebas, Anjlok Hingga 40% Menjelang Lebaran
Wall Street Ditutup Menguat Meski Kenaikan Harga Minyak dan Ketegangan Timur Tengah Tekan Sentimen
Konflik Timur Tengah Picu Kenaikan Harga Bahan Baku, Produsen Kemasan EPAC Naikkan Harga Jual