Kritik Halus Anies Baswedan: Sindiran untuk Pejabat di Balik Isu Krisis Kepercayaan Publik

- Selasa, 09 Desember 2025 | 18:50 WIB
Kritik Halus Anies Baswedan: Sindiran untuk Pejabat di Balik Isu Krisis Kepercayaan Publik

Pernyataan Anies Baswedan soal krisis kepercayaan publik dalam penanganan bencana Sumatra, menuai tafsir. Pengamat politik Adi Prayitno mencermatinya. Menurut dia, meski disampaikan dengan cara yang halus, kritik mantan Gubernur DKI itu jelas mengarah ke pejabat pemerintah.

“Anies Baswedan itu biasanya kritikannya halus. Kritikannya itu tidak tutup poin, tidak menyebut pejabat tertentu,” ujar Adi dalam sebuah video yang diunggah di kanal YouTube-nya, Selasa lalu.

“Anies juga tidak pernah menyebut nama siapa yang sangat layak untuk dikoreksi dan dievaluasi,” tambahnya.

Namun begitu, Adi merasa ada pesan terselubung. Ketika Anies menyebut banyak orang datang ke lokasi bencana justru mendapat nyinyiran, itu secara implisit mengarah pada pejabat berotoritas. Intonasi dan perbandingan yang dipakai Anies, dalam pandangan Adi, punya target yang jelas.

“Kalau membaca intonasinya, kalau membaca perbandingannya, saya kira Anies sepertinya ingin menyasar pejabat-pejabat yang otoritatif terkait upaya menanggulangi bencana yang tidak mendapatkan kepercayaan publik,” kata Adi.

Pejabat yang datang ke lokasi malah disambut sinisme. Di sisi lain, warga biasa yang menggalang bantuan justru dapat respons yang hangat dan luar biasa. Kontras inilah yang menurut Adi menjadi inti kritik itu. Kemungkinan besar, sasarannya adalah menteri-menteri terkait seperti Menteri SDM, Lingkungan Hidup, atau Kehutanan bahkan mantan pejabat yang kebijakannya diduga berkontribusi pada deforestasi dan kerusakan lingkungan.

Fenomena perpindahan kepercayaan ini menarik perhatian Adi. Publik kini justru lebih percaya pada individu atau kelompok masyarakat biasa. Mereka tidak punya jabatan, tidak punya kantor megah, apalagi kewenangan untuk menggelontorkan dana negara.

“Tapi seruannya untuk membantu Sumatera mendapatkan respon yang cukup luar biasa,” jelasnya.

Pernyataan Anies itu sendiri disampaikan dalam kuliah umum “Turun Tangan Festival 2025” di Taman Ismail Marzuki, Minggu kemarin. Acara itu memang didesain untuk mengumpulkan donasi bagi korban banjir dan longsor di Sumatra.

Sejak tak lagi menjabat gubernur dan kalah di Pilpres 2024, Anies tampak konsisten pada posisinya. Adi menilai, ia kini adalah figur oposisi yang tetap memberikan kritik kepada pemerintah.

“Per hari ini satu-satunya figur yang tidak menjadi bagian dari kekuasaan politik adalah Anies Baswedan. Sepertinya Anies konsisten dengan sikapnya yang kritis,” ungkap Adi.

Meski demikian, di akhir pembahasannya, Adi menekankan hal yang lebih penting. Kolaborasi. Semua pihak harus bekerja sama untuk pemulihan Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.

“Siapa pun yang bekerja dan membantu secara ikhlas, secara sungguh-sungguh, sekecil apa pun untuk berkontribusi terkait recovery di Sumatra, sangat layak untuk kita apresiasi,” pungkasnya.

“Kurangi bantah-bantahan, kurangi saling serang-menyerang.”

Banjir dan longsor di Sumatra memang telah menimbulkan kerusakan masif. Korban jiwa berjatuhan, infrastruktur hancur. Situasi ini jelas butuh penanganan serius dari banyak pihak, tanpa terkecuali.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler