Akibatnya, sejak pertengahan Maret 2026 lalu, perseroan mencatat kenaikan harga film yang cukup signifikan. Kondisi ini jelas mempersempit ruang untuk berhemat. Apalagi, sampai saat ini EPAC belum juga menemukan alternatif bahan baku atau sumber pasokan baru yang harganya lebih bersaing.
Lalu apa langkah mereka? Sebagai bentuk mitigasi, perseroan memutuskan untuk menyesuaikan harga jual produknya. Tujuannya jelas, untuk menjaga margin keuntungan yang terus tergerus oleh biaya produksi yang membengkak.
Di sisi lain, meski tertekan, manajemen menyatakan belum ada rencana aksi korporasi besar-besaran dalam setahun ke depan. Fokus mereka saat ini lebih pada menjaga agar operasional perusahaan tetap stabil.
"Perseroan saat ini lebih fokus menjaga stabilitas operasional di tengah volatilitas harga energi dan logistik global," tutur manajemen.
Memang, gejolaknya cukup ekstrem. Harga minyak mentah seperti WTI dan Brent sempat menyentuh level di atas USD100 per barel. Angka itu hampir dua kali lipat dibanding posisinya di akhir tahun 2025. Sungguh lompatan yang fantastis.
Dan bukan cuma minyak. Biaya pengapalan global, yang tercermin dalam Containerized Freight Index, juga melesat tinggi. Lonjakannya mencapai 36 persen sejak konflik antara Israel dan Amerika Serikat dengan Iran kembali memanas. Jadi, tekanan datang dari segala sisi.
Artikel Terkait
Wall Street Ditutup Menguat Meski Kenaikan Harga Minyak dan Ketegangan Timur Tengah Tekan Sentimen
Serangan ke Pelabuhan Fujairah Picu Lonjakan Harga Minyak dan Ancaman Disrupsi Pasokan Global
BEI Perpanjang Penundaan Transaksi Short Selling hingga September 2026
Wall Street Menguat di Tengah Harapan Pembukaan Kembali Selat Hormuz