“Dengan harga minyak yang mulai turun dari level tersebut, investor menjadi lebih nyaman bahwa perdagangan berbasis pelemahan nilai mata uang bisa kembali menguat,” ujar Melek.
Memang, emas sering dianggap sebagai lindung nilai inflasi. Tapi logam ini punya musuh bebuyutan: kenaikan suku bunga. Saat suku bunga naik, daya tarik emas cenderung memudar karena ia tidak memberikan imbal hasil seperti aset berbunga.
Kini, perhatian investor beralih menunggu data inflasi AS. Data Indeks Harga Konsumen (CPI) serta Personal Consumption Expenditures (PCE) yang akan dirilis akhir pekan ini akan jadi penentu sentimen berikutnya. Kebanyakan analis memperkirakan The Fed akan menahan suku bunganya dalam pertemuan 17-18 Maret mendatang. Mereka sedang menunggu kejelasan lebih lanjut.
Sementara itu, di pasar fisik Dubai, situasinya agak unik. Harga emas di sana justru diperdagangkan dengan diskon terhadap patokan harga London. Kok bisa? Pembatasan penerbangan akibat konflik membuat pasokan emas terjebak di pasar lokal. Di saat yang sama, permintaan dari pembeli tetap lesu. Jadilah, harga jadi lebih murah.
Perak dan platinum ikut-ikutan naik dalam sesi itu. Perak spot melompat 2,7 persen ke USD 89,39, sementara platinum menguat 2,2 persen menjadi USD 2.229,15. Nasib berbeda dialami paladium, yang justru terpangkas 0,9 persen ke level USD 1.675,50. Pasar logam mulia memang selalu punya cerita sendiri-sendiri.
Artikel Terkait
IHSG Dibuka Menguat 0,59%, Mayoritas Sektor Catatkan Kenaikan
IEA Siapkan Pelepasan Cadangan Minyak Terbesar, Bursa Asia Merespons Positif
Harga Emas Antam Naik Rp40.000 per Gram, Sentuh Rp3,08 Juta
Wall Street Berakhir Bervariasi, Ketegangan Timur Tengah Tekan Sentimen