Rupiah Melemah ke Rp16.949, Tertekan Gejolak Minyak dan Ketegangan Timur Tengah

- Senin, 09 Maret 2026 | 16:40 WIB
Rupiah Melemah ke Rp16.949, Tertekan Gejolak Minyak dan Ketegangan Timur Tengah

Nilai tukar rupiah menutup perdagangan Senin (9/3/2026) dengan pelemahan. Mata uang kita terdepresiasi 24 poin, atau sekitar 0,15 persen, ke level Rp16.949 per dolar AS. Posisi ini cukup rentan, dan menurut pengamat, tekanan masih akan berlanjut.

Pengamat pasar uang Ibrahim Assuaibi menyoroti satu faktor utama di balik pelemahan ini: sentimen harga minyak dunia yang melonjak drastis. Harganya bahkan tembus di atas 100 dolar AS per barel, sebuah kenaikan yang mencapai 30 persen. Ini jelas bukan kabar baik.

“Serangan udara Israel dan AS menargetkan fasilitas minyak Iran selama akhir pekan, sementara Teheran membalas dengan meluncurkan serangan rudal terhadap beberapa fasilitas minyak di negara-negara Timur Tengah,”

Begitu tulis Ibrahim dalam risetnya yang dirilis Senin lalu. Situasinya memang memanas dengan cepat.

Menurut sejumlah laporan, Iran juga dikabarkan memblokir Selat Hormuz dengan menyerang kapal-kapal yang melintas. Ini langkah yang berisiko tinggi. Selat itu kan jalur utama pasokan minyak untuk sebagian besar Asia. Bayangkan saja gangguan yang bisa terjadi jika penutupan benar-benar terjadi. Pasokan bakal kacau.

Di sisi lain, dinamika politik internal Iran turut memberi sinyal keras. Mereka baru saja menunjuk Mojtaba Khamenei untuk menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi. Pengangkatan ini seolah menegaskan bahwa kelompok garis keras masih memegang kendali penuh di Teheran, terutama di tengah konflik yang belum reda dengan Amerika Serikat dan Israel.

Sementara itu, dari Asia, ada data inflasi China yang patut dicermati. Inflasi indeks harga konsumen mereka tercatat naik 1,3 persen secara tahunan pada Februari. Angkanya melampaui ekspektasi pasar yang hanya 0,9 persen, sekaligus menjadi laju tercepat dalam tiga tahun terakhir.

Editor: Raditya Aulia


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar