Pasar saham AS dibuka dengan suasana campur aduk Rabu lalu. Indeks S&P 500 memang merangkak naik, tapi pergerakannya tipis sekali. Di balik layar, gejolak masih terasa. Rupanya, sentimen investor sedang diuji oleh dua hal: kabar dari Timur Tengah dan janji dari Gedung Putih.
Menurut laporan The New York Times, ada gelagat menarik dari Iran. Sehari setelah serangan terjadi, agen intelijen mereka dikabarkan menghubungi CIA secara tidak langsung. Tujuannya? Membuka pembicaraan untuk mengakhiri konflik. Kabar ini tentu saja disambut, tapi jangan terlalu cepat berharap. Pemerintahan Trump dan mungkin juga Iran sendiri tampaknya belum benar-benar siap untuk meredakan ketegangan dalam waktu dekat.
“Ini bisa jadi sinyal positif,” kata Art Hogan, Kepala Ahli Strategi Pasar di B Riley Wealth. Tapi dia mengingatkan, “Kita tidak boleh gegabah. Pemerintah sudah menyatakan punya tujuan yang belum tercapai.”
Di sisi lain, Presiden Donald Trump berusaha menenangkan pasar dengan jaminan akan menstabilkan harga minyak. Pengumuman tentang pengawalan kapal tanker oleh Angkatan Laut AS di Selat Hormuz, plus asuransi risiko politik, sedikit banyak memberi angin segar.
Namun begitu, realitas di lapangan masih suram. Beberapa negara di Timur Tengah telah menghentikan sementara produksi minyak dan gas. AS sendiri disebut-sebut sedang memperluas kampanye militernya ke pedalaman Iran. Dampaknya langsung terlihat di papan perdagangan.
Artikel Terkait
Wall Street Bergoyang di Tengah Ketegangan Iran dan Sinyal Diplomatik Samar
Saham AS Bergejolak Imbas Ketegangan Iran dan Janji Stabilisasi Energi
Kontak Rahasia Iran-AS dan Janji Trump Pengaruhi Pasar Saham
Kontak Rahasia Iran ke CIA dan Janji Trump Pengaruhi Pasar Saham AS