Wall Street Dibuka Campur Aduk, Dihantui Ketegangan Iran dan Harga Minyak

- Rabu, 04 Maret 2026 | 23:45 WIB
Wall Street Dibuka Campur Aduk, Dihantui Ketegangan Iran dan Harga Minyak

Wall Street dibuka dengan suasana campur aduk Rabu kemarin. Indeks S&P 500 memang merangkak naik, tapi tipis banget. Perdagangan berlangsung bergejolak, mencerminkan kebimbangan investor yang sedang mencerna dua hal: kabar dari balik layar soal Iran dan janji presiden AS untuk pasar minyak.

Menurut laporan New York Times, agen-agen intelijen Iran diam-diam sudah menyentuh CIA. Tujuannya? Membuka pembicaraan untuk mengakhiri konflik. Ini terjadi sehari setelah serangan besar-besaran. Kabar ini tentu saja meniupkan angin segar, walau di Washington sikapnya masih dingin. Para pejabat AS ragu kedua belah pihak benar-benar siap untuk meredakan ketegangan dalam waktu dekat.

Art Hogan, Kepala Ahli Strategi Pasar di B Riley Wealth, memberi peringatan.

"Ini kemungkinan kabar baik, sih. Tapi jangan terlalu cepat senang. Pemerintah sudah jelas punya tujuan yang belum tercapai, jadi kita harus tetap waspada."

Di sisi lain, pernyataan Presiden Donald Trump soal komitmen menstabilkan harga minyak ikut mempengaruhi sentimen. Dia bahkan menjanjikan pengawalan Angkatan Laut AS untuk kapal tanker di Selat Hormuz, plus asuransi risiko politik. Langkah ini sedikit banyak memberi kelegaan.

Pergerakan saham pun terlihat beragam. Sektor pariwisata, yang sensitif sama harga minyak, tampak gamang. American Airlines naik 1,2%, sementara Norwegian Cruise cuma diam di tempat. Carnival dan Delta malah terperosok, masing-masing turun 1,2% dan 0,8%.

Yang jelas-jelas tertekan adalah sektor energi. ConocoPhillips dan Cheniere Energy anjlok, dan sektor Energi di S&P 500 langsung jadi yang terburuk dengan penurunan 1,8%. Wajar saja, beberapa negara Timur Tengah sudah menghentikan sementara produksi mereka, sementara AS dikabarkan berupaya memperluas kampanye militernya.

Pada pukul 09:56 pagi waktu setempat, papan indeks mencatat pergerakan beragam. Dow Jones sedikit melemah 0,07% ke level 48.467,74. S&P 500 naik tipis 0,12% ke 6.825,22. Nasdaq Composite justru melesat 0,58% ke 22.646,75, didorong oleh saham-saham teknologi.

Investor sekarang juga mempertimbangkan ulang jadwal suku bunga. Ekspektasi potongan suku bunga 25 basis poin, yang sebelumnya diyakini terjadi Juli, kini banyak yang geser ke September. Alasannya? Kekhawatiran biaya energi dan tarif impor AS bisa memicu inflasi lagi.

Secara teknis, S&P 500 masih kuat dengan enam rekor tertinggi baru dalam setahun terakhir. Tapi dia juga cetak dua rekor terendah baru, lho. Nasdaq lebih ekstrem: 34 kali sentuh level tertinggi baru, tapi juga 44 kali catat level terendah baru. Ini menggambarkan volatilitas yang masih tinggi di balik kenaikan indeks.

Jadi, pasar saham sepertinya masih menari di atas ketegangan geopolitik. Setiap kabar, baik itu bisikan damai atau janji stabilisasi, langsung disambut dengan reaksi cepat tapi hati-hati, karena langkah berikutnya masih bisa ke mana saja.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar