Rupiah Melemah ke Rp16.787, Dihantui Ketegangan Geopolitik dan Tarif AS

- Jumat, 27 Februari 2026 | 16:35 WIB
Rupiah Melemah ke Rp16.787, Dihantui Ketegangan Geopolitik dan Tarif AS

Yang menarik, penurunan suku bunga yang sebelumnya diyakini bakal terjadi pada Juni, sekarang jadi kurang pasti. Berdasarkan CME FedWatch Tool, kemungkinan itu justru bergeser ke bulan Juli. Probabilitasnya sekitar 66 persen. Jadi, pasar harus bersabar lebih lama.

Dari kacamata domestik, ada kabar yang kurang baik dari Departemen Perdagangan AS (DOC). Mereka resmi mengenakan bea masuk imbalan untuk sel dan panel surya impor dari India, Indonesia, dan Laos. Alasannya klasik: melawan subsidi pemerintah yang dinilai mendukung industri di ketiga negara Asia itu.

Rincian tarifnya cukup signifikan: 125,87 persen untuk India, 104,38 persen untuk Indonesia, dan 80,67 persen untuk Laos. Nilai impor dari ketiga negara ini tahun lalu mencapai USD4,5 miliar, atau sekitar Rp75,73 triliun. Angka itu mencakup hampir dua pertiga total impor sepanjang 2025.

Keputusan ini sebenarnya bukan hal baru. Sudah sepuluh tahun lebih AS getol mengenakan bea masuk untuk produk surya murah dari Asia, yang banyak diproduksi perusahaan China. Lewat lembar fakta di situs resminya, DOC menyatakan langkah ini untuk mendukung industri dalam negeri mereka. Argumennya, subsidi yang diterima perusahaan di tiga negara itu membuat produk AS kalah bersaing di pasar sendiri.

Melihat semua faktor ini, Ibrahim Assuaibi memprediksi pergerakan rupiah ke depan masih akan fluktuatif. Untuk perdagangan selanjutnya, dia memperkirakan rupiah berpotensi ditutup melemah di rentang Rp16.790 hingga Rp16.820 per dolar AS. Sementara untuk proyeksi satu minggu ke depan, rentangnya lebih lebar: antara Rp16.750 dan Rp16.900.

Pelemahan di akhir pekan ini mungkin hanya jeda. Tapi minggu depan, semua mata akan kembali tertuju pada data ekonomi dan gejolak geopolitik yang terus berdenyut.

Editor: Bayu Santoso


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar