“Perdebatan bukan lagi soal hasil jangka pendek yang kuat, melainkan keberlanjutan belanja AI mengingat kekhawatiran atas monetisasi dan tekanan arus kas,” jelas Clode.
Jadi, euforianya ada, tapi tetap dibayangi tanda tanya besar.
Di pasar valuta asing, yen masih jadi bahan pembicaraan. Mata uang ini sempat melemah ke level terendah dalam dua pekan, sebelum akhirnya menguat tipis 0,2 persen ke posisi 156,01 per dolar AS. Namun secara mingguan, pelemahannya masih sekitar 0,6 persen. Pemicu keraguan ini adalah langkah pemerintah Jepang yang mencalonkan dua akademisi pro-stimulus untuk duduk di dewan bank sentral. Pencalonan ini diinterpretasi banyak pihak sebagai sinyal bahwa proses normalisasi suku bunga alias kenaikan mungkin akan ditunda lebih lama lagi.
Analis OCBC menyoroti hal itu. Mereka menilai langkah tersebut memicu kekhawatiran bank sentral akan tertinggal dalam mengetatkan kebijakan. Proyeksi mereka untuk nilai tukar dolar AS/yen di akhir 2026 tetap di angka 149, dengan catatan bahwa yen kecil kemungkinan berubah menjadi mata uang investasi favorit, kecuali jika bank sentral bertindak lebih agresif dari perkiraan dua kali kenaikan suku bunga tahun ini.
Sementara itu, dolar AS sendiri melemah di hadapan mata uang utama lainnya. Euro menguat 0,12 persen ke USD1,1824, dan poundsterling Inggris naik 0,08 persen ke USD1,3570.
Di komoditas, ketegangan geopolitik masih jadi pendorong. Minyak mentah bertahan di zona tinggi, dengan Brent naik 0,27 persen ke USD71,04 per barel dan minyak AS menguat 0,24 persen ke USD65,55 per barel. Kekhawatiran pasokan akibat potensi konflik militer antara AS dan Iran terus membayangi. Emas, sebagai aset safe-haven, juga ikut menguat 0,27 persen ke level USD5.184,66 per ons, mencerminkan kehati-hatian yang masih tersisa di tengah optimisme pasar saham.
Artikel Terkait
Avian Brands Bagikan Dividen Final Rp709 Miliar, Total 2026 Capai Rp1,36 Triliun
Analis Soroti Anomali: Kinerja BCA Gemilang, Harga Saham Justru Anjlok
ARNA Bagikan Dividen Rp330 Miliar, Setara Rp45 per Saham untuk Tahun Buku 2025
BEI Resmi Delisting Saham Sritex Mulai 2026, Lo Kheng Hong Tercatat Sebagai Pemegang Saham