Soal proyeksi, OJK punya angka-angka yang cukup menggembirakan. Kredit perbankan diprediksi tumbuh 10-12%, didorong oleh pertumbuhan Dana Pihak Ketiga sebesar 7-9%. Sektor asuransi diperkirakan akan mencatat pertumbuhan aset program sebesar 5-7%.
Bidang lain tampaknya lebih bersemangat. Aset Program Dana Pensiun diproyeksikan melesat 10-12%, sementara Program Penjaminan bisa tumbuh lebih cepat lagi di kisaran 14-16%. Untuk perusahaan pembiayaan, pertumbuhan piutang diperkirakan stabil di level 6-8%. Pasar modal sendiri menargetkan penghimpunan dana hingga Rp250 triliun.
Dalam kesempatan yang sama, pandangan dari pelaku industri juga menguatkan optimisme tersebut. Direktur Utama BRI, Hery Gunardi, menekankan peran strategis industri jasa keuangan.
"Dengan sinergi regulator dan pelaku industri, tata kelola yang kuat, manajemen risiko yang disiplin, serta komitmen terhadap transformasi, saya meyakini sistem keuangan Indonesia akan tetap resilient dan mampu tumbuh sehat di tengah tantangan global," tegas Hery.
Dia melihat industri perbankan dalam posisi yang solid untuk mendukung ekspansi kredit. Likuiditas cukup terjaga dengan pertumbuhan dana pihak ketiga yang mencapai 11,4% secara tahunan. Rasio loan to deposit ratio yang bertengger di angka 84% menunjukkan masih ada ruang untuk ekspansi tanpa membebani likuiditas.
Permodalan pun masih sangat kuat. Capital adequacy ratio bertahan di level sekitar 26%, jauh di atas batas minimum yang ditetapkan regulator. Cadangan modal yang tebal ini menjadi bantalan terhadap risiko sekaligus peluang untuk mendorong pertumbuhan kredit yang prudent.
Artikel Terkait
ERAL dan Mitra Resmikan Perusahaan Patungan untuk Pasar Teknologi Display
Pemerintah Masih Kaji Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi di Tengah Gejolak Minyak Dunia
Menteri Keuangan Ubah Skema Pembiayaan Koperasi Desa, APBN Kini Tanggung Utang
Pemerintah Targetkan 400.000 Unit Bedah Rumah pada 2026