Pasar saham hari ini, Kamis (19/2/2026), tutup sesi pertama dengan catatan merah. Padahal, IHSG sempat mengawali perdagangan dengan sentimen positif. Namun begitu, momentum itu tak bertahan lama. Indeks Harga Saham Gabungan akhirnya parkir di level 8.289,08, terpangkas 21,15 poin atau setara 0,25 persen.
Kalau dilihat dari pergerakannya, suasana bursa terbilang cukup beragam. Dari ribuan saham yang diperdagangkan, 308 emiten berhasil naik. Tapi, jumlah yang melemah lebih banyak, yakni 369 saham. Sementara itu, 281 saham lainnya stagnan, tak banyak bergerak. Total volume transaksi mencapai 34,67 miliar saham dengan nilai tukar Rp16,41 triliun.
Indeks-indeks utama mayoritas ikut terseret. LQ45 turun 0,15 persen, IDX30 melemah tipis 0,04 persen, dan MNC36 merosot 0,39 persen. Di sisi lain, indeks JII justru tampil berbeda dengan kenaikan 0,49 persen.
Performa sektoral pun terbelah. Ada beberapa sektor yang masih mampu bertahan di zona hijau, seperti energi, konsumer non-siklikal, dan infrastruktur. Tak ketinggalan, sektor bahan baku dan transportasi juga mencatatkan kenaikan. Sayangnya, tekanan justru datang dari sektor-sektor lain. Konsumer siklikal, keuangan, dan properti melemah. Begitu pula dengan industri, teknologi, dan kesehatan yang ikut menutup sesi dengan pelemahan.
Di tengah pelemahan IHSG, beberapa saham justru melesat tajam. Posisi puncak gainers diduduki oleh PT Kokoh Exa Nusantara Tbk (KOCI), diikuti oleh PT Cipta Perdana Lancar Tbk (PART). PT Satria Mega Kencana Tbk (SOTS) juga masuk dalam jajaran saham yang kinerjanya impresif hari ini.
Sementara itu, daftar saham yang paling tertekan diisi oleh PT Sunson Textile Manufacture Tbk (SSTM). PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK) dan PT Hillcon Tbk (HILL) juga tercatat sebagai top losers, menanggung tekanan jual yang cukup berat.
Artikel Terkait
TRON Diversifikasi ke Infrastruktur Kendaraan Listrik Usai RUPSLB
Saham Hillcon Anjlok 14,71%, Tertekan Sejak IPO
OJK Cabut Izin BPR Kamadana di Bali Diduga karena Praktik Fraud
Saham Migas Menguat di BEI, Sentimen Harga Minyak dan Ketegangan AS-Iran Jadi Pemicu