Perundingan antara Washington dan Teheran sejauh ini masih alot. Meski Iran menyatakan telah ada "kesepakatan umum" soal kerangka perjanjian nuklir, pihak AS punya pandangan berbeda.
Wakil Presiden AS JD Vance dengan tegas menyatakan Iran belum memenuhi garis merah yang ditetapkan Amerika.
Sementara itu, Presiden Donald Trump kembali menegaskan bahwa opsi penggunaan kekuatan militer tetap terbuka. Pernyataan-pernyataan keras ini jelas menambah ketidakpastian di pasar energi global.
Di sisi lain, ada sedikit angin segar dari data persediaan domestik AS. Stok minyak mentah mereka turun 0,61 juta barel pekan lalu. Penurunan ini sedikit banyak membantu mengimbangi lonjakan gila-gilaan 13,4 juta barel pada pekan sebelumnya kenaikan tertajam sejak awal 2023. Data ini memberi sedikit penopang bagi harga.
Jadi, gabungan antara ketegangan geopolitik dan data inventori ini yang mendorong minyak, dan akhirnya saham-saham migas kita. Investor tampaknya masih menunggu perkembangan lebih lanjut, sambil memetik keuntungan dari volatilitas yang ada.
Keputusan pembelian atau penjualan saham sepenuhnya ada di tangan investor.
Artikel Terkait
Pemerintah Masih Kaji Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi di Tengah Gejolak Minyak Dunia
Menteri Keuangan Ubah Skema Pembiayaan Koperasi Desa, APBN Kini Tanggung Utang
Pemerintah Targetkan 400.000 Unit Bedah Rumah pada 2026
CDIA Resmikan Kapal Kimia Cair 9.000 DWT, Siap Layar 2026