Deretan saham konglomerasi dengan PBV rendah patut disimak. Soalnya, dalam setahun terakhir, saham-saham yang berhubungan dengan grup konglomerat benar-benar jadi incaran investor ritel. Harganya melesat tinggi sepanjang 2025.
Namun begitu, euforia itu sempat terhenti. MSCI mengeluarkan peringatan soal transparansi data pemegang saham pada akhir Januari 2026, dan koreksi tajam pun terjadi. Tapi jangan salah, usai terjun bebas, saham-saham ini kembali ramai diperdagangkan. Bahkan, pergerakan harganya kini sudah positif lagi.
Karena ramai diperdagangkan, wajar saja kalau banyak saham konglomerat yang price to book value-nya melambung tinggi. Ambil contoh BREN, PBV-nya sampai 107,69 kali. Atau BUVA milik Hapsoro, diperdagangkan 24,94 kali di atas nilai wajarnya.
Nah, bagi yang belum familier, price to book value atau PBV itu rasio yang dipakai untuk mengukur mahal atau murahnya sebuah saham dibanding nilai bukunya. Ini alat ukur umum di pasar.
Secara teori, angka PBV di bawah 1 menandakan harga pasar masih murah. Sebaliknya, angka yang besar berarti saham itu diperdagangkan dengan premium yang tinggi dibanding nilai wajarnya.
Tapi ingat, PBV tinggi bukan cerita buruk. Bisa jadi pasar sedang mengapresiasi prospek bisnisnya ke depan, atau ada sentimen positif yang mendorongnya. Di sisi lain, saham dengan PBV rendah juga bukan investasi jelek. Mungkin saja pasar belum sepenuhnya mengenali potensinya.
Lagipula, PBV bukanlah satu-satunya patokan. Investor dan trader berpengalaman pasti punya banyak rasio dan kalkulasi lain sebelum memutuskan beli.
Yang menarik, di tengah gempuran saham konglo yang harganya sudah melambung, ternyata masih ada beberapa yang terlihat undervalued. Masih ada yang PBV-nya di bawah 1 kali. Berikut daftarnya.
PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE)
PBV: 0,44x
Nilai wajar: Rp2.014
PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM)
PBV: 0,45x
Nilai wajar: Rp15.484
PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP)
PBV: 0,47x
Nilai wajar: Rp20.494
PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI)
PBV: 0,63x
Nilai wajar: Rp12.012
PT Ciputra Tbk (CTRA)
PBV: 0,66x
Nilai wajar: Rp1.242
PT Sinar Mas Agro Resources & Technology Tbk (SMAR)
PBV: 0,74x
Nilai wajar: Rp7.453
PT Astra Otoparts Tbk (AUTO)
PBV: 0,83x
Nilai wajar: Rp3.176
PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF)
PBV: 0,84x
Nilai wajar: Rp8.002
PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO)
PBV: 0,85x
Nilai wajar: Rp2.635
Dari sembilan saham tadi, empat di antaranya berasal dari Grup Sinar Mas. Dua dari Astra International. Sisanya mewakili grup besar lain seperti Ciputra, Salim, dan Boy Thohir. Jadi, meski sempat panas dan terkoreksi, ternyata masih ada pilihan yang harganya relatif terjangkau menurut buku. Patut dipertimbangkan.
Artikel Terkait
Mentan Pastikan Stok Pangan Sumatera Aman Tiga Bulan Pascabencana
Pengendali Baru NATO Luncurkan Tender Wajib dengan Harga Rp183, Jauh di Bawah Pasar
Saham PART Cetak Auto Reject, Melonjak 34% Jadi Top Gainer
IHSG Menguat 0,29% Usai Libur Imlek, RMKO dan ROCK Melonjak 24,6%