Empat Emiten Film di BEI: Dari Produksi hingga Bioskop

- Senin, 16 Februari 2026 | 15:50 WIB
Empat Emiten Film di BEI: Dari Produksi hingga Bioskop

MURIANETWORK.COM - Industri perfilman Indonesia tidak hanya hidup di layar lebar, tetapi juga tercermin dalam dinamika pasar modal. Setidaknya terdapat empat emiten yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan bisnis inti di sektor film, baik sebagai rumah produksi maupun pengelola jaringan bioskop. Saham-saham ini dikategorikan dalam sektor barang konsumen nonprimer, menawarkan pilihan investasi yang terkait langsung dengan geliat dunia hiburan tanah air.

Mengenal Emiten Film di Pasar Modal

Kehadiran perusahaan film di bursa efek memberikan warna tersendiri bagi portofolio investor. Emiten-emiten ini umumnya bergerak dalam dua lini usaha utama: produksi konten film dan serial, serta penyediaan fasilitas rekreasi berupa bioskop. Keberagaman model bisnis ini menunjukkan bahwa industri perfilman memiliki rantai nilai yang cukup kompleks dan menarik untuk diamati.

PT MD Entertainment Tbk (FILM)

Sebagai salah satu rumah produksi terbesar, MD Entertainment telah mencetak sejumlah film box office yang melekat di benak penonton. Judul-judul seperti ‘KKN di Desa Penari’, ‘Sewu Dino’, dan ‘Habibie & Ainun’ adalah bukti dari kemampuannya menangkap selera pasar.

Perusahaan yang didirikan oleh Dhamoo dan Manoj Punjabi ini memiliki cakupan bisnis yang luas. “FILM memiliki empat segmen bisnis. Yakni MD Picture yang berfungsi sebagai rumah produksi, MD Music yang berfokus pada musik, MD Animation yang berfokus pada animasi, dan MD Studios yang berfokus pada drama televisi,” jelas manajemen perusahaan. Sejak melantai di bursa pada 2018, kinerja saham FILM menunjukkan perkembangan yang signifikan.

PT Tripar Multivision Plus Tbk (RAAM)

Bagi penikmat sinetron era 90-an, nama Raam Punjabi dan Multivision Plus tentu sangat familiar. Perusahaan yang kini berkode RAAM ini adalah pionir produksi drama televisi komersial di Indonesia dan telah berekspansi ke film layar lebar.

Portofolio karya mereka sangat beragam, mulai dari film horor legendaris ‘Kuntilanak’ hingga serial drama seperti ‘Tersanjung’. Setelah puluhan tahun berkecimpung di industri, RAAM memutuskan untuk melakukan penawaran saham perdana (IPO) pada tahun 2023, membuka kesempatan bagi publik untuk memiliki bagian dari sejarah perfilman Indonesia.

PT Nusantara Sejahtera Raya Tbk (CNMA)

Di sisi hilir industri, CNMA berperan sebagai penggerak utama dengan mengelola jaringan bioskop XXI. Perjalanannya dimulai pada 1987 dengan membuka Studio 21, yang tercatat sebagai bioskop modern pertama di tanah air.

Kini, jaringan mereka telah berkembang pesat. “Saat ini CNMA mengoperasikan lebih dari 250 bioskop di kota-kota besar Indonesia dengan total 1.350 layar (studio),” tutur pihak perusahaan. Untuk memenuhi segmen pasar yang berbeda, XXI menawarkan berbagai pengalaman menonton, mulai dari studio reguler, The Premier, hingga yang berteknologi IMAX.

PT Graha Layar Prima Tbk (BLTZ)

Bersaing ketat di pasar, BLTZ muncul sebagai pemain utama kedua dengan jaringan bioskop CGV. Transformasi besar terjadi pada 2014 setelah diakuisisi oleh CJ CGV asal Korea Selatan, yang membawa teknologi dan konsep bioskop mutakhir ke Indonesia.

Dengan sekitar 72 lokasi dan 408 layar, BLTZ dikenal dengan inovasi variasi studionya. “BLTZ memiliki segmen studio yang bervariasi. Mulai dari reguler, Velvet, Gold, Satin, IMAX, Starium, ScreenX, 4DX, SphereX, dan Sky Screen,” ungkapnya. Ciri khas lain dari CGV adalah komitmennya untuk menayangkan lebih banyak film Asia, memberikan alternatif yang beragam bagi para cinephile.

Peluang dan Tantangan Investasi

Keempat emiten ini merepresentasikan pondasi industri hiburan visual nasional. Sebagai instrumen investasi, saham sektor perfilman menawarkan eksposur terhadap pola konsumsi masyarakat, yang sangat dipengaruhi oleh tren dan daya beli. Namun, investor juga perlu mencermati siklus bisnisnya yang bisa fluktuatif, bergantung pada kesuksesan film yang dirilis dan frekuensi kunjungan masyarakat ke bioskop. Analisis mendalam terhadap laporan keuangan dan prospek bisnis masing-masing perusahaan tetap menjadi langkah kunci sebelum mengambil keputusan.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar