MURIANETWORK.COM - PT Satu Visi Putra Tbk (VISI), emiten di bidang jasa iklan dan percetakan, mengumumkan bahwa Nagita Slavina masuk sebagai calon pengendali baru perusahaan. Pengumuman ini disampaikan kepada publik pada Kamis, 12 Februari 2026, menyusul pemberitahuan resmi dari perseroan terkait negosiasi yang dilakukan Nagita dengan pemegang saham penjual. Meski demikian, detail besaran saham dan nilai transaksi pengambilalihan ini belum diungkap ke publik.
Dampak Operasional dan Respons Pasar
Dalam pernyataannya, manajemen VISI menegaskan bahwa rencana perubahan pengendali ini tidak akan mempengaruhi operasional, kondisi keuangan, maupun kelangsungan bisnis perusahaan. Pernyataan ini tampaknya dimaksudkan untuk menenangkan investor dan mitra usaha.
Namun, respons pasar justru bergerak ke arah berlawanan. Sentimen investor terhadap kabar ini terlihat negatif, tercermin dari pelemahan tajam harga saham VISI di hari pengumuman.
Koreksi Tajam Setelah Rally Panjang
Pada perdagangan Kamis (12/2/2026), saham VISI terkoreksi dalam-dalam sebesar 9,89 persen ke level Rp820 per saham, hingga menyentuh batas auto reject bawah (ARB). Penurunan ini menghentikan tren penguatan spektakuler yang terjadi sebelumnya.
Sejak suspensi dibuka pada Kamis pekan sebelumnya (5/2/2026), saham VISI sempat meroket dengan rata-rata kenaikan harian 9,57 persen. Bahkan, saham ini menyentuh auto reject atas (ARA) selama lima hari berturut-turut, mengakumulasi kenaikan 30,16 persen dalam sepekan dan melesat 222,83 persen dalam satu bulan terakhir.
Mekanisme Perdagangan dan Struktur Kepemilikan
Akibat volatilitas yang tinggi, saham VISI saat ini ditempatkan di papan pemantauan khusus dan diperdagangkan menggunakan mekanisme Full Call Auction (FCA). Mekanisme ini diterapkan karena status suspensi saham yang telah berlangsung lebih dari satu hari bursa berturut-turut.
Sementara itu, struktur kepemilikan saham VISI per 30 September 2025 menunjukkan David Dwiputra sebagai pemegang saham pengendali dengan porsi 72 persen. Kepemilikan publik tercatat sebesar 20 persen, disusul Farrel Yonathan 7 persen, dan Robert Putra Sampurna 2 persen. Perubahan struktur ini akan terlihat jelas setelah proses transaksi dengan Nagita Slavina selesai dan dilaporkan secara resmi.
Hingga berita ini diturunkan, pihak perusahaan maupun Nagita Slavina belum memberikan pernyataan lebih lanjut mengenai timeline dan detail finansial dari rencana akuisisi saham tersebut. Para analis pasar pun masih menunggu kejelasan lebih lanjut untuk menilai dampak jangka panjang dari perubahan kepemilikan ini.
Artikel Terkait
Nagita Slavina Berpotensi Jadi Pengendali Baru Emiten VISI
Rupiah Melemah ke Rp16.828 Didorong Tekanan Fiskal dan Data AS
Saham Indospring (INDS) Melonjak 21%, Riwayat Emiten Pegas Kendaraan Kembali Diingat
Pemerintah Pangkas Kuota Produksi Batu Bara dan Nikel pada 2026