Pemerintah akhirnya mengambil langkah tegas. Kementerian ESDM resmi memangkas kuota produksi untuk dua komoditas andalan: batu bara dan bijih nikel di tahun 2026. Kebijakan ini, seperti diungkapkan pejabat, bukan tanpa pertimbangan matang. Mereka melihat proyeksi kebutuhan dalam negeri, memperhitungkan kapasitas industri pengolahan yang ada, dan tentu saja, berusaha menjaga stabilitas harga di pasar global yang fluktuatif.
Tri Winarno, Dirjen Minerba, menyebut angka konkretnya. Untuk batu bara, produksi domestik akan ditekan ke level sedikit di atas 600 juta ton. Coba bandingkan dengan realisasi tahun 2025 yang diproyeksikan mencapai 790 juta ton. Memang ada penurunan signifikan, meski angkanya sedikit lebih tinggi dari wacana awal yang sempat beredar di kisaran 600 juta ton flat.
“Kebijakan ini merujuk pada proyeksi permintaan dalam negeri, termasuk kebutuhan PLN,” jelas Tri.
Meski dilakukan pengetatan, ada kelompok yang dapat ‘dispensasi’. Pemegang izin PKP2B generasi I dan BUMN pemegang IUP dikonfirmasi tidak akan mengalami pemotongan kuota produksi untuk tahun depan. Namun begitu, mereka tak sepenuhnya lolos. Kewajiban pemenuhan Domestic Market Obligation (DMO) bagi kelompok ini justru dinaikkan menjadi 30 persen, naik dari ketentuan sebelumnya 25 persen, efektif mulai awal tahun ini.
Di lapangan, respons pelaku usaha beragam. Gita Mahyarani, Direktur Eksekutif APBI, mengungkapkan bahwa skala pemangkasan yang diterima masing-masing perusahaan cukup bervariasi. Bahkan ada laporan dari salah satu anggotanya yang kuotanya dipotong drastis hingga 80 persen dari RKAB awal.
“Secara umum, pemangkasan untuk batu bara tahun 2026 ini berada di kisaran 40 sampai 70 persen,” ujar Gita.
Proses evaluasi RKAB tahap II sebagian besar sudah keluar. Tapi bukan berarti sudah final. Masih dimungkinkan adanya evaluasi lanjutan sebelum RKAB resmi terbit dan semua persyaratan dipenuhi perusahaan.
Lalu, bagaimana dengan nikel? Nasib serupa. Pemerintah juga memangkas kuota produksi bijih nikel untuk 2026 menjadi sekitar 260-270 juta ton. Angka ini turun cukup dalam, sekitar 29-31 persen, dibandingkan kuota tahun 2025 yang mencapai 379 juta ton. Tujuannya jelas: mendongkrak harga nikel global yang lesu dan cenderung stagnan sepanjang tahun 2025.
Sebelumnya, Tri Winarno sempat menyebut angka yang lebih rendah, yakni 250-260 juta ton. Kuota akhir yang sedikit lebih tinggi ini, menurut pengamat, mencerminkan hasil negosiasi dan permintaan revisi dari para produsen.
Dampaknya langsung terasa. Seperti yang dialami PT Weda Bay Nickel. Perusahaan patungan Tsingshan, Eramet, dan Antam itu hanya mendapat jatah 12 juta ton untuk tahun depan. Jelas ini penurunan tajam dari kuota 2025 yang mencapai 42 juta ton. Kabarnya, perusahaan sedang mengajukan revisi atas keputusan tersebut.
Menurut riset Stockbit, kuota yang diumumkan pemerintah ini sebenarnya tak jauh dari wacana yang sudah beredar di pasar. Tapi, angka final yang sedikit lebih tinggi dari ekspektasi paling pesimis itu dianggap sebagai win-win solution setelah negosiasi alot.
Bagaimana pasar merespons? Saham-saham terkait bergerak variatif. Di sektor batu bara, ada yang hijau, ada yang merah. Adaro (AADI) dan Indika Energy (INDY) justru menguat tipis. Sebaliknya, Bumi Resources (BUMI) dan Bukit Asam (PTBA) malah terkoreksi.
Yang menarik justru reaksi di sektor nikel. Mayoritas emiten malah catat penguatan. Vale Indonesia (INCO) melesat lebih dari 5 persen. Trimegah Bangun Persada (NCKL) juga naik hampir 5 persen. Sementara Merdeka Battery Materials (MBMA) menguat tipis.
Pasar seperti sedang mencerna. Di satu sisi, pemangkasan kuota bisa berarti pendapatan yang lebih kecil. Tapi di sisi lain, kebijakan ini bisa menjadi katalis untuk perbaikan harga komoditas di tingkat global. Dan itu justru bagus untuk sustainability bisnis jangka panjang. Menunggu babak berikutnya.
Artikel Terkait
Nagita Slavina Berpotensi Jadi Pengendali Baru Emiten VISI
Rupiah Melemah ke Rp16.828 Didorong Tekanan Fiskal dan Data AS
Saham Indospring (INDS) Melonjak 21%, Riwayat Emiten Pegas Kendaraan Kembali Diingat
Nagita Slavina Masuk Sebagai Calon Pengendali Baru PT VISI, Saham Terkoreksi Tajam