“Ada kemungkinan dari situ (anggaran Makan Bergizi Gratis yang dipotong), ada kemungkinan dari tempat lain. Tapi cukuplah nggak banyak-banyak banget kalau nggak salah anggarannya,” jelasnya.
Gagasan ini sendiri pertama kali dilontarkan Prabowo sebagai upaya mempercantik pemandangan sekaligus meningkatkan kualitas hunian. Ia menilai atap seng yang masih banyak dipakai itu punya banyak kelemahan.
“Seng ini panas untuk penghuni, seng ini juga berkarat, jadi tidak mungkin Indonesia indah kalau semua genteng dari seng. Maaf saya tidak tahu ini dari dulu industri aluminium dari mana ya, maaf bikin yang lain-lain deh,” kata Prabowo dalam sebuah rapat di Sentul, Jawa Barat.
“Saya ingin semua atap Indonesia pakai genteng. Jadi nanti ini gerakannya adalah gerakan, proyeknya adalah proyek gentengisasi ke Indonesia,” lanjutnya.
Nah, menariknya, data BPS 2022 justru menunjukkan mayoritas rumah tangga kita sudah pakai genteng. Angkanya mencapai 57,93 persen. Sementara, rumah dengan atap seng ada di kisaran 31,48 persen.
Material seng memang punya kelebihan: ringan, awet, dan harganya terjangkau. Tapi di sisi lain, banyak yang mengeluh. Saat hujan, suaranya berisik. Dan ketika terik, panasnya menyengat karena sifat logam yang mudah menyerap panas. Inilah yang coba diatasi lewat program gentengisasi ini.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam Melonjak Rp102 Ribu, Pecahan 1 Gram Tembus Rp2,9 Juta
Bareskrim Gerebek Kantor Shinhan Sekuritas, OJK: Jaga Integritas Pasar
IHSG Tergelincir Tipis, Saham PIPA dan MINA Anjlok Lebih dari 14%
IHSG Berpeluang Lanjutkan Penguatan, Analis Soroti Empat Saham Pilihan