Kedua, ada skema pendapatan tetap yang menarik. Selain beli saham, GPSO juga akan mengelola aset tanah dan bangunan pabrik di kawasan industri Jababeka dan EJIP. Aset-aset ini diproyeksikan menghasilkan aliran sewa yang stabil, dengan rental rate antara 5 sampai 10 persen. Lumayan untuk menopang arus kas.
Di sisi lain, manfaat terbesar mungkin terletak pada integrasi. Tjokro Group sendiri dikenal sebagai parts maker raksasa di Indonesia. Dengan mengonsolidasi bisnis-bisnis ini, GPSO bakal bertransformasi jadi perusahaan induk berpendapatan triliunan rupiah. Mereka akan mengelola rantai bisnis yang terintegrasi penuh, mulai dari forging hingga heat treatment. Dari hulu ke hilir.
Nah, soal pendanaan transaksi sebesar ini, GPSO masih mengkaji pilihan terbaik. Opsi yang sedang dipertimbangkan termasuk mekanisme share swap atau Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD). Bisa juga lewat instrumen utang. Semuanya masih digodok.
Yang ditegaskan manajemen adalah komitmen mereka terhadap regulasi.
Jadi, itulah langkah pertama GPSO pasca-akuisisi. Sebuah gerakan ambisius senilai Rp700 miliar yang ingin mengubah peta persaingan. Sekarang, tinggal menunggu eksekusinya.
Artikel Terkait
Menkeu Purbaya Bicara Beban Jabatan dan Rencana Bantu Pedagang Terbelit Utang
Bitcoin Koreksi 7% Usai The Fed Pertahankan Suku Bunga dan Revisi Proyeksi Inflasi
Kemenhub Klaim Harga Tiket Mudik Masih Wajar, OTA Dituding Sebabkan Persepsi Mahal
Gangguan Pasokan Timur Tengah Ancam Kerek Harga Aluminium