Edupreneurship: Senjata Ampuh Lulusan Pendidikan Hadapi Badai Krisis 2026

- Minggu, 01 Februari 2026 | 20:06 WIB
Edupreneurship: Senjata Ampuh Lulusan Pendidikan Hadapi Badai Krisis 2026

Lulusan sarjana pendidikan sebenarnya punya modal kuat untuk jadi seorang edupreneur. Konsep edupreneurship ini melihat pendidikan bukan cuma sebagai profesi, tapi sebagai ruang untuk menciptakan solusi dan nilai tambah. Dengan bekal ilmu pedagogi yang mereka punya, potensi untuk mengembangkan layanan edukasi yang dibutuhkan masyarakat itu sangat besar.

Tapi potensi saja tidak cukup. Harus ditopang pengalaman belajar yang nyata dan kontekstual. Perkuliahan nggak boleh berhenti di teori. Mahasiswa butuh ruang praktik yang melatih kreativitas, kolaborasi, dan keberanian mengambil keputusan. Misalnya, lewat pembelajaran berbasis proyek atau praktik langsung merintis usaha di bidang pendidikan.

Dari pengalaman praktik seperti itu, mereka akan paham. Membangun usaha edukasi nggak selalu butuh modal miliaran rupiah. Membuka kelas literasi untuk anak-anak di sekitar rumah, bimbel skala kecil, kursus daring, atau membuat konten edukasi di platform digital semua bisa dimulai perlahan, dari yang sederhana. Model usaha macam ini fleksibel, bisa menyesuaikan diri dengan kondisi ekonomi yang ada.

Jadi, dalam menghadapi kemungkinan krisis global 2026, menguatkan semangat edupreneurship di kampus punya arti yang strategis. Lulusan yang mampu menciptakan lapangan usaha sendiri tidak cuma lebih tahan banting menghadapi ketidakpastian. Mereka juga punya peluang untuk membuka ruang belajar dan kerja bagi orang lain di sekitarnya.

Pada akhirnya, respons terhadap tantangan pengangguran terdidik harus lebih lincah. Perguruan tinggi, terutama fakultas pendidikan, punya peran krusial. Tugasnya adalah menyiapkan lulusan yang tidak cuma siap melamar kerja, tapi juga siap menciptakan peluang kerja. Di tengah iklim global yang serba tak pasti, kemampuan beradaptasi dan menciptakan nilai menjadi senjata utama untuk bertahan dan tentu saja, untuk berkontribusi.


Halaman:

Komentar