“Kami berharap penutupan ini akan singkat,” tulisnya dalam pernyataan Jumat (30/1) lalu.
Dia menegaskan pemerintah siap membuka kembali operasional begitu Presiden Trump menandatangani undang-undang pendanaan yang diperlukan.
Di sisi lain, ketegangan politik yang memicu ini semua ternyata berawal dari sebuah insiden di Minneapolis. Alex Pretti, seorang warga AS, tewas dalam suatu insiden dengan petugas Patroli Perbatasan akhir pekan lalu. Tragedi ini memicu reaksi keras Partai Demokrat.
Mereka menolak memperpanjang pendanaan untuk Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) tanpa ada pembatasan baru soal penegakan imigrasi. Tuntutannya macam-macam: wajib pakai kamera tubuh, wajib ada surat perintah pengadilan, larangan pakai penutup wajah, dan hentikan operasi penangkapan imigran secara besar-besaran.
Alhasil, setelah negosiasi alot, Trump dan Pemimpin Mayoritas Demokrat di Senat, Chuck Schumer, akhirnya sepakat. Mereka akan mendanai DHS untuk dua minggu ke depan sambil terus berunding. Sementara itu, pendanaan untuk lembaga pemerintah lainnya diperpanjang hingga 30 September. Kesepakatan ini sudah disetujui Senat pada Jumat.
Menariknya, dalam beberapa hari terakhir Trump mulai mengisyaratkan perubahan pada kebijakan deportasi yang selama ini dijalankannya. Jajak pendapat menunjukkan kebijakan itu makin tidak populer di mata pemilih. Kalau diteruskan, bisa-bisa merugikan Partai Republik dalam pemilu paruh waktu nanti.
Lalu, apa yang terjadi selanjutnya? Komite Anggaran Parlemen AS telah menjadwalkan pemungutan suara untuk rancangan anggaran pada pekan depan. Tapi masih ada tanda tanya: apakah Biro Statistik Tenaga Kerja akan menunda rilis laporan bulanan ketenagakerjaan yang rencananya terbit Jumat depan? Kita tunggu saja perkembangannya.
Artikel Terkait
Gangguan Pasokan Timur Tengah Ancam Kerek Harga Aluminium
Pajak Rokok DKI Alokasikan Minimal 50% untuk Pelayanan Kesehatan Masyarakat
Bapanas Pastikan Stok Daging Nasional Melimpah Jelang Idulfitri
Saham Asia Menguat Didorong AI, Waspada Gejolak Harga Minyak